Sunday, January 20, 2019

5 kebiasaan sejak tinggal di Jepang

Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Peribahasa yang sering kita dengar dari zaman sekolah ini akan sangat terasa ketika kita pergi merantau ke daerah yang punya kebiasaan berbeda dengan daerah asal. Semakin berbeda daerah yang kita tuju, semakin banyak adaptasi yang harus dilakukan. Bagimana dengan pelajar Indonesia di Jepang? Hal-hal apa saja yang berubah sejak pindah ke Jepang? Tulisan ini saya buat berdasarkan pengalaman pribadi, semoga bisa bermanfaat :)

1. Mengecek cuaca
Tinggal di daerah tropis dengan suhu relatif sama sepanjang tahun, membuat kita nggak terlalu peduli dengan fluktuasi kondisi lingkungan. Biasanya kekhawatiran kita cuma antara hujan atau nggak, dan setiap musim punya kecenderungan masing-masing yang mempermudah kita untuk memprediksi. Meskipun stasiun televisi banyak yang menghadirkan ramalan cuaca di pagi hari, rasanya nggak sedikit orang yang nggak benar-benar memperhatikan isinya. That's include me. Tapi, semua berubah ketika negara api menyerang pindah ke Jepang. Dengan suhu yang bisa sangat panas di musim panas dan sangat dingin di musim dingin, mengetahui kondisi di luar selama beberapa jam kedepan akan sangat membantu kita menentukan pakaian yang tepat dan sesuai. Selain itu, juga bermanfaat untuk mengetahui jadwal menjemur baju supaya nggak kebasahan ketika sedang dijemur. Bahkan di televisi juga ada informasi jadwal menjemur baju yang membantu supaya usaha kita untuk mencuci baju nggak berakhir sia-sia. Kalau prakiraan cuaca menunjukkan akan hujan, dari pagi akan banyak orang berseliweran sambil menenteng payung panjangnya.

beberapa kebiasaan baru sejak tinggal di Jepang

Selain rutin memeriksa aplikasi cuaca di handphone, di musim taifun kita juga harus rajin mengecek apakah ada taifun yang mendekat ke daerah tempat tinggal. Biasanya di website meteorologi pemerintah juga akan ada indikasi kalau kita harus siaga atau mengungsi karena bencana alam. Jadi, sejak tinggal di Jepang, tingkat awareness dengan kondisi sekitar semakin meningkat ya :)

2. Berjalan kaki
Bukan rahasia kalau orang Jepang sangat suka berjalan kaki. Bahkan kalian akan dengan mudah melihat lansia yang masih naik turun tangga ke subway sendirian. Kadang suka malu sendiri kalau merasa lelah hahaha. Pernah dengar salah seorang teman bilang kalau sepatu yang bagus adalah modal untuk tinggal di Jepang. I couldn't agree more. Kenapa? Karena mobilisasi sehari-hari akan banyak dilakukan dengan berjalan kaki. Mulai dari jalan ke dan dari stasiun/halte, sampai berbelanja ke supermarket. Dari total perjalanan dari rumah sampai lab, dalam sehari saya menghabiskan waktu sekitar 40 menit jalan kaki untuk menempuh 3-4 km. Bahkan waktu yang saya tempuh di dalam kereta jauh lebih sebentar dibanding jalan kakinya hahaha. Mungkin ini kali ya salah satu alasan orang Jepang bisa berumur panjang.

3. Memisahkan sampah
Salah satu hal yang saya syukuri memulai kehidupan di Jepang dari asrama adalah bisa belajar memilah sampah dengan baik. Awalnya cukup bikin pusing dengan klasifikasi yang lumayan banyak dan jadwal yang ditentukan, padahal selama di Indonesia cuma ada satu jenis sampah rumahan. Setelah dijalani, saya justru merasa nyaman dengan sistem ini. Kadang malah ketika pulang ke Indonesia saya gemas sendiri melihat sampah baterai dicampur dengan sampah makanan. Ohiya, kita juga nggak bisa membuang sampah ukuran besar sembarangan lho. Untuk membuang peralatan besar seperti sofa misalnya, kita harus menghubungi kota/kecamatan tempat tinggal untuk mengambil barang tersebut di jadwal yang sudah ditentukan. Biasanya kita tinggal membeli stiker untuk ditempelkan di barang yang akan diangkut. Hal ini yang mendasari banyaknya lungsuran barang dari para senior yang akan pulang ke Indonesia, karena memberi barang itu gratis, membuang itu bayar.

4. Mengecek komposisi makanan
Oke, mungkin ini hanya berlaku untuk kita yang makan makanan halal. Sebelum menetap (sementara) di Jepang, saya nggak pernah terlalu memikirkan kehalalan suatu makanan atau minuman. Karena memang di negara yang mayoritas muslim hal ini bukanlah sesuatu yang harus kita khawatirkan. Lalu bagaimana dengan Jepang? Saat ini, jumlah makanan halal di Jepang meningkat cukup pesat dibanding beberapa tahun yang lalu, bahkan sudah semakin banyak supermarket yang menjual daging/produk halal. Untuk makanan yang belum ada logo halalnya, diperlukan kejelian pembeli untuk mengecek komposisi produk sebelum membeli. Sedikit banyak juga jadi belajar tentang komposisi makanan sih ya.

5. Memasak sendiri
Tinggal merantau di luar Indonesia bagi banyak orang membuat skill memasak meningkat, apalagi untuk perempuan yang sudah berkeluarga. Sebelum menikah saya termasuk yang nggak mau ribet dan memasak hanya sesuai mood (dan waktu). Tapi, setelah menikah dan ternyata suami juga suka makan malah menantang saya untuk memasak agak "berat" setidaknya di akhir pekan. Kebiasaan ini justru berdampak bagus karena selain menambah kemampuan memasak, juga sebagai pengobat rindu atas makanan yang sulit atau nggak bisa ditemukan di Jepang hihihi.

Nah, itu beberapa kebiasaan baru sejak saya pindah ke Jepang. Teman-teman yang sedang merantau ke luar Indonesia juga, kebiasaan apa saja sih yang berubah? :)

PS: teman-teman yang punya pertanyaan tentang Jepang, silakan komen di sini ya.

2 comments:

  1. Ah iya bener banget mbak, kalau sedang berada di wilayah yang bukan mayoritas muslim jadi jeli ya soal komposisi makanan :D saya follow akun ig yang membahas makanan halal di Jepang, memang makin lama makin banyak resto halal yang buka mbak, hihi, jadi makin pengen ke sana

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya banget, apalagi kalau di Jepang vegetarian nggak sehits di barat, jadi makan snack pun harus dibaca dulu. hayuuk ke sini, sekarang praying room juga semakin banyak. alhamdulillah ya :)

      Delete