Monday, January 21, 2019

ada apa dengan Jepang?

Wah terharu akhirnya sampai di postingan terakhir dari 7 days 7 posts challenge yang saya buat untuk menantang diri sendiri konsisten menulis. Bisa dikatakan ini pencapaian luar biasa dalam sejarah blog ini *lebay* karena untuk pertama kalinya dalam setahun bisa mempublish 7 tulisan padahal masih di bulan Januari. Saya sungguh terharu :")

Awal mula kembali membuka blog lagi beberapa hari yang lalu adalah karena nggak sengaja teringat dan dorongan dari pak suamik untuk menulis. Bagi saya, menulis puisi jauh lebih mudah dibanding artikel panjang, apalagi mempertahankan konsistensi. Saya merasa ilmu yang masih cetek ini nggak ada apa-apanya untuk dibagi, tapi setiap kali menunjukkan hasil tulisan ke pak suamik malah jadi semakin semangat untuk terus bercerita.

sakura dua tahun yang lalu

Sebagian orang merasa pergi ke negara baru bisa jadi sesuatu yang menakutkan. Ditambah dengan language barrier yang semakin memperkeruh suasana adaptasi. Saya harap melalui blog ini saya bisa mengurangi ketakutan tersebut dengan memberikan sedikit gambaran tentang bagaimana kehidupan di Jepang, khususnya dari sisi seorang mahasiswa sekolah pascasarjana yang sedang berjuang menghadapi kerasnya ldm. Dalam beberapa bulan semoga sudut pandang ini suduh berubah, alias sudah lulus.

Terima kasih untuk teman-teman yang sudah membaca blog ini. Kalau mempunyai pertanyaan atau request tulisan tentang Jepang silakan ditulis di komen. Siapa tahu saya bisa bercerita ;)

Sunday, January 20, 2019

5 kebiasaan sejak tinggal di Jepang

Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Peribahasa yang sering kita dengar dari zaman sekolah ini akan sangat terasa ketika kita pergi merantau ke daerah yang punya kebiasaan berbeda dengan daerah asal. Semakin berbeda daerah yang kita tuju, semakin banyak adaptasi yang harus dilakukan. Bagimana dengan pelajar Indonesia di Jepang? Hal-hal apa saja yang berubah sejak pindah ke Jepang? Tulisan ini saya buat berdasarkan pengalaman pribadi, semoga bisa bermanfaat :)

1. Mengecek cuaca
Tinggal di daerah tropis dengan suhu relatif sama sepanjang tahun, membuat kita nggak terlalu peduli dengan fluktuasi kondisi lingkungan. Biasanya kekhawatiran kita cuma antara hujan atau nggak, dan setiap musim punya kecenderungan masing-masing yang mempermudah kita untuk memprediksi. Meskipun stasiun televisi banyak yang menghadirkan ramalan cuaca di pagi hari, rasanya nggak sedikit orang yang nggak benar-benar memperhatikan isinya. That's include me. Tapi, semua berubah ketika negara api menyerang pindah ke Jepang. Dengan suhu yang bisa sangat panas di musim panas dan sangat dingin di musim dingin, mengetahui kondisi di luar selama beberapa jam kedepan akan sangat membantu kita menentukan pakaian yang tepat dan sesuai. Selain itu, juga bermanfaat untuk mengetahui jadwal menjemur baju supaya nggak kebasahan ketika sedang dijemur. Bahkan di televisi juga ada informasi jadwal menjemur baju yang membantu supaya usaha kita untuk mencuci baju nggak berakhir sia-sia. Kalau prakiraan cuaca menunjukkan akan hujan, dari pagi akan banyak orang berseliweran sambil menenteng payung panjangnya.

beberapa kebiasaan baru sejak tinggal di Jepang

Selain rutin memeriksa aplikasi cuaca di handphone, di musim taifun kita juga harus rajin mengecek apakah ada taifun yang mendekat ke daerah tempat tinggal. Biasanya di website meteorologi pemerintah juga akan ada indikasi kalau kita harus siaga atau mengungsi karena bencana alam. Jadi, sejak tinggal di Jepang, tingkat awareness dengan kondisi sekitar semakin meningkat ya :)

2. Berjalan kaki
Bukan rahasia kalau orang Jepang sangat suka berjalan kaki. Bahkan kalian akan dengan mudah melihat lansia yang masih naik turun tangga ke subway sendirian. Kadang suka malu sendiri kalau merasa lelah hahaha. Pernah dengar salah seorang teman bilang kalau sepatu yang bagus adalah modal untuk tinggal di Jepang. I couldn't agree more. Kenapa? Karena mobilisasi sehari-hari akan banyak dilakukan dengan berjalan kaki. Mulai dari jalan ke dan dari stasiun/halte, sampai berbelanja ke supermarket. Dari total perjalanan dari rumah sampai lab, dalam sehari saya menghabiskan waktu sekitar 40 menit jalan kaki untuk menempuh 3-4 km. Bahkan waktu yang saya tempuh di dalam kereta jauh lebih sebentar dibanding jalan kakinya hahaha. Mungkin ini kali ya salah satu alasan orang Jepang bisa berumur panjang.

3. Memisahkan sampah
Salah satu hal yang saya syukuri memulai kehidupan di Jepang dari asrama adalah bisa belajar memilah sampah dengan baik. Awalnya cukup bikin pusing dengan klasifikasi yang lumayan banyak dan jadwal yang ditentukan, padahal selama di Indonesia cuma ada satu jenis sampah rumahan. Setelah dijalani, saya justru merasa nyaman dengan sistem ini. Kadang malah ketika pulang ke Indonesia saya gemas sendiri melihat sampah baterai dicampur dengan sampah makanan. Ohiya, kita juga nggak bisa membuang sampah ukuran besar sembarangan lho. Untuk membuang peralatan besar seperti sofa misalnya, kita harus menghubungi kota/kecamatan tempat tinggal untuk mengambil barang tersebut di jadwal yang sudah ditentukan. Biasanya kita tinggal membeli stiker untuk ditempelkan di barang yang akan diangkut. Hal ini yang mendasari banyaknya lungsuran barang dari para senior yang akan pulang ke Indonesia, karena memberi barang itu gratis, membuang itu bayar.

4. Mengecek komposisi makanan
Oke, mungkin ini hanya berlaku untuk kita yang makan makanan halal. Sebelum menetap (sementara) di Jepang, saya nggak pernah terlalu memikirkan kehalalan suatu makanan atau minuman. Karena memang di negara yang mayoritas muslim hal ini bukanlah sesuatu yang harus kita khawatirkan. Lalu bagaimana dengan Jepang? Saat ini, jumlah makanan halal di Jepang meningkat cukup pesat dibanding beberapa tahun yang lalu, bahkan sudah semakin banyak supermarket yang menjual daging/produk halal. Untuk makanan yang belum ada logo halalnya, diperlukan kejelian pembeli untuk mengecek komposisi produk sebelum membeli. Sedikit banyak juga jadi belajar tentang komposisi makanan sih ya.

5. Memasak sendiri
Tinggal merantau di luar Indonesia bagi banyak orang membuat skill memasak meningkat, apalagi untuk perempuan yang sudah berkeluarga. Sebelum menikah saya termasuk yang nggak mau ribet dan memasak hanya sesuai mood (dan waktu). Tapi, setelah menikah dan ternyata suami juga suka makan malah menantang saya untuk memasak agak "berat" setidaknya di akhir pekan. Kebiasaan ini justru berdampak bagus karena selain menambah kemampuan memasak, juga sebagai pengobat rindu atas makanan yang sulit atau nggak bisa ditemukan di Jepang hihihi.

Nah, itu beberapa kebiasaan baru sejak saya pindah ke Jepang. Teman-teman yang sedang merantau ke luar Indonesia juga, kebiasaan apa saja sih yang berubah? :)

PS: teman-teman yang punya pertanyaan tentang Jepang, silakan komen di sini ya.

Saturday, January 19, 2019

membeli buku berbahasa Inggris di Jepang

Nggak semua orang yang tinggal di Jepang memiliki kemampuan bahasa yang memadai untuk membaca buku berbahasa Jepang, bahkan untuk yang sudah mahir pun banyak yang lebih memilih buku dengan bahasa ibu mereka. Koleksi bacaan saya di Indonesia bisa bertambah belasan hingga puluhan dalam setahun, hal ini tentu nggak mudah untuk diterapkan di Jepang. Selain karena harganya yang mahal banget, alasan utamanya ya karena memang susah bacanya. Biasanya saya lebih memilih untuk membeli buku berbahasa Inggris secara online yang harganya lebih murah. Daftar di bawah ini siapa tahu bisa jadi referensi berbelanja buku bahasa Inggris untuk kalian yang tinggal di Jepang ;)

1. Amazon
Siapa sih yang nggak tahu salah satu situs jual beli terbesar di dunia ini? Bukan hanya menyediakan buku berbahasa Jepang saja, kita juga bisa membeli buku berbahasa asing dengan katalog yang cukup lengkap dengan harga lebih murah dibanding di toko buku. Walaupun nggak semua, pilihan buku yang menyediakan free shipping dengan standard delivery atau free scheduled delivery untuk anggota Amazon Prime lumayan banyak. Buku yang dibeli bisa langsung diantar ke rumah atau diambil di konbini (convenient store). Nggak jarang Amazon menyediakan potongan harga yang cukup menggiurkan. Kalau rajin bisa dapat buku idaman dengan harga miring! :D

beberapa buku bahasa Inggris yang dibeli di Jepang

Situs jual beli yang ini memang mengkhususkan diri untuk menjual buku dan memiliki fasilitas free shipping ke seluruh dunia tanpa batas minimal pembelian. Asik banget kan? Karena memang toko buku, pilihan bukunya banyak banget sampai galau mau beli yang mana. Bisa lihat daftar best seller mereka dengan berbagai klasifikasi sebagai referensi. Harganya pun nggak terlalu mahal dan sering ada promo potongan harga. Kekurangannya ya karena diship dari luar Jepang (UK/Aussie), waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke rumah relatif lebih lama. Tapi, so far so good sih, bisa digunakan juga untuk membeli buku bahasa Inggris kalau sudah pulang ke Indonesia nanti.

Berbeda dengan dua toko buku di atas, Maruzen mempunyai toko fisik yang lumayan mudah ditemukan di Jepang. Di Nagoya, toko buku ini bisa ditemukan di daerah Sakae dengan buku asing di lantai atas. Buku berbahasa Inggris yang dijual lumayan banyak, walaupun harganya lebih mahal dibanding yang dijual di dua situs online sebelumnya. Tapi, kalau mau beli buku sambil nongkrong di toko buku dan check in di Swarm biar kelihatan hits, boleh banget mampir ke sini.

Baca juga: berburu beasiswa ke negeri sakura (monbukagakusho)

4. Loft
Kalau pergi ke Jepang, mungkin ini salah satu toko yang sering kalian lihat dengan tema toko warna hitam dan kuning. Barang yang dijual pun beraneka ragam. Di cabang yang besar, kita bisa menemukan dari mulai produk kecantikan sampai peralatan tulis. Pertama kali iseng turun ke lantai basement Loft di Sakae, ternyata mereka juga menjual buku berbahasa Inggris. Jumlah buku yang dijual nggak terlalu beda jauh dengan di Maruzen, dan harganya juga lebih mahal dibanding di online shop. Tapi, berdasarkan pengalaman, harga kebanyakan barang di Jepang itu hampir sama, jadi kalau membutuhkan buku dalam waktu cepat nggak ada salahnya membeli di offline store.

5. Toko buku di Kampus
Nggak terlalu yakin sebenarnya semua kampus punya toko buku yang menyediakan buku bahasa Inggris. Variasi buku yang disediakan juga mungkin nggak terlalu banyak, dan mostly buku penunjang pelajaran. Kadang kalau kita terdaftar sebagai anggota, bisa mendapatkan potongan harga yang lumayan lho secara harga buku paket kan mahal banget ya bisa sampai jutaan rupiah. Pernah juga ada sale buku bekas yang masih sangat layak dan harganya hanya 500 yen. Kalap banget mau beli semuanya kalau nggak ingat nanti bawa pulangnya ke Indonesia susah hahaha.

6. Book Off
Baru tahun lalu saya menemukan bahwa Book Off yang besar juga memiliki stok buku berbahasa Inggris. Untuk yang belum tahu, Book Off adalah toko barang bekas yang tersebar di (hampir) seluruh Jepang. Selain buku, biasanya kita bisa menemukan barang-barang bekas seperti baju, sepatu, tas, sampai collectible items. Mahasiswa kayaknya pasti familiar dengan Book Off, Hard Off, dan teman-temannya.

Karena memang barang bekas, jadi kondisi bukunya bervariasi, jumlahnya terbatas, dan setiap cabang ketersediaannya berbeda-beda. Buku yang dijual masih layak untuk dibaca dan nggak jarang harganya menggiurkan. Kalau kalian nggak masalah dengan buku bekas, Book Off bisa jadi salah satu pilihan oke, apalagi orang Jepang terkenal sangat apik menjaga barang.

Baca juga: pengalaman kuliah master di Jepang

Sampai sekarang, baru enam tempat ini yang saya tahu menjual buku berbahasa Inggris di Jepang. Kalau menemukan tempat baru (dan nggak lupa update), insyaAllah akan saya update postingannya. Cheers! ;)

PS: teman-teman yang punya pertanyaan tentang Jepang, silakan komen di sini ya.

Friday, January 18, 2019

winter holiday: seven days in Seoul (bag.1)

Libur telah tiba, libur telah tiba, hatiku gembira! Siapa yang bacanya sambil nyanyi, mungkin kita seumuran hahaha. Jadi, libur musim dingin kemarin saya berkesempatan main ke negara tetangga yang ramai dikunjungi wisatawan dari Indonesia, yes! South Korea. Wacana menahun akhirnya terlaksana, dan alhamdulillah cukup mevvah nggak perlu benar-benar backpackeran, terutama urusan makanan. Karena mungkin akan cukup panjang, ceritanya akan dibagi jadi beberapa post ya. Let's start with the preparation (and impression)..here we go!

1. Beli Tiket
Sebagai orang yang hobi makan (dan tahu kalau makanan halal di Seoul itu lebih banyak dibanding di Tokyo sekalipun), saya berusaha menekan biaya tiket dan penginapan semurah mungkin. Setelah membandingkan harga tiket beberapa maskapai dan transport dari tempat tinggal ke bandara, kami memutuskan untuk pergi dari Osaka. Biaya PP Osaka - Seoul sekitar 30.000 - 35.000 yen/orang dengan menggunakan Peach Aviation, termasuk bagasi dan asuransi. Kalau perginya bukan di musim liburan dan cuma backpackeran, kalian bisa menekan harga sampai di bawah 20.000 yen/orang. Musim dingin begini barang yang dibawa jadi berlipat ganda tebalnya, jadi mau nggak mau memang harus beli bagasi. Mungkin bagian ini kurang relate dengan yang tinggal di Indonesia, tapi siapa tahu ada yang mau Japan - Korea Trip gitu kan :p

sebagian isi koper

Buat saya, ada semacam rasa natsukashii juga ketika kembali menginjakkan kaki di Kansai International Airport. Bandaranya di tengah laut dan cukup besar, walaupun nggak sepadat Narita atau Haneda. Maskapai low cost letaknya di terminal 2, kita bisa menggunakan free shuttle bus dari terminal 1 yang (kalau nggak salah) jadwalnya setiap setengah jam sekali. Ohiya, di KIX terminal 1 ada makanan halal dan mushala lho. Jangan lupa isi perut dan shalat dulu sebelum ke terminal 2, karena di terminal 2 ada banyak banget gatcha relatif lebih kosong :)

2. Penginapan
Saya menggunakan Booking.com untuk mencari penginapan yang sesuai dengan budget, sampai akhirnya menemukan Bong House yang lokasinya cukup strategis di dekat Hyewa Station dan pembayaran bisa dilakukan di tempat saat check in. Harganya sangat bersahabat di kantung mahasiswa, sekitar 23.000 yen untuk 2 orang selama 5 hari (kami memutuskan menginap di rumah teman dan di bandara untuk malam pertama dan terakhir di Seoul karena jadwal kedatangan dan keberangkatan pesawat yang agak nanggung). Kamarnya pun dilengkapi dengan fasilitas kamar mandi dalam, mesin cuci, handuk, wifi, dan kompor. Sayangnya, pemanas ruangannya kurang bisa menghangatkan kamar (atau mungkin saya nya yang terlalu cupu to deal with the winter), tapi overall saya suka dengan penginapannya. Ownernya ramah, kamarnya bersih dan luas, juga ada sarapan dari jam 9 - 11 pagi.
Untuk kalian yang menganggap traveling on budget itu nggak keren, jangan khawatir. Di aplikasi seperti Booking.com dan penyedia jasa penginapan lainnya juga tersedia hotel mewah berbintang yang bisa kalian pilih. Kami memilih penginapan yang murah karena memang fokus traveling kami adalah jalan-jalan dan makan mungkin kami harus membuat satu blog khusus mengulas makanan halal.

3. VISA
Kalau bagian ini mungkin lebih lengkapnya bisa dilihat di website resmi kedutaan besar Korea kali ya tentang apa saja yang dibutuhkan untuk apply VISA. Mungkin yang dibutuhkan untuk apply di Indonesia berbeda dengan di Jepang. Kali ini saya cuma mau share tentang pengalaman apply VISA suami yang tinggal di daerah berbeda. Awalnya sempat khawatir nggak bisa dan harus pake jasa agen (yang mana berarti harus bayar lebih) karena secara teritori memang masuk daerah pelayanan yang berbeda. Tapi, ternyata bisa! Kita cuma perlu menunjukkan bukti buku nikah dan menyertakan fotokopiannya saat aplikasi. Mungkin intinya menunjukkan bahwa kita keluarga kali ya, apalagi di Indonesia bukan sesuatu yang umum nama belakang berubah setelah menikah. Proses sampai VISAnya selesai juga nggak terlalu lama, cuma sekitar 3 hari kerja. Alhamdulillah ya :)

4. SIM Cards
Anak kekinian pasti nggak bisa hidup tanpa jaringan internet, begitupun saya hahaha. Koneksi internet ini selain penting untuk memberi kabar juga untuk check in di sosial media mencari rute terbaik ke tempat tujuan supaya nggak nyasar. Setelah membandingkan harga di bandara dan membeli online di Amazon, saya memutuskan beli di Amazon yang harganya lebih murah. Kartu yang saya beli bisa digunakan selama 6 hari dengan kuota unlimited tapi mengalami penurunan kecepatan setelah 3 GB. Pengaturannya nggak terlalu sulit dan handphone bisa digunakan sebagai hotspot. Sebelum membeli, pastikan dulu kartu masih aktif saat kita traveling.

5. Winter Survival Kits
Bukan rahasia lagi kalau Korea di musim dingin itu luar biasa dinginnya, apalagi buat anak tropis seperti saya. Penting banget bawa long john, heattech, syal, dan jaket yang mumpuni demi kenyamanan bersama. Kalau di Jepang masih bisa jaket dibiarkan terbuka, selama di Korea rasanya jaket harus selalu tertutup rapat biar nggak masuk angin. Sepatu hangat dan tahan air juga nggak kalah penting, terutama kalau lagi ada salju. Pastikan juga kalian membawa pelembab yang juara ya, kalau kulit tidak terhidrasi dengan baik bisa mudah berdarah dan justru membuat liburan jadi nggak menyenangkan.

Kalau mau tahu perjalanan kami selama di Korea, tunggu postingan selanjutnya ya! Semoga bermanfaat ;)

Thursday, January 17, 2019

[review] focallure eyeshadow palette sweet as honey dan twilight

Kali ini saya ingin menantang diri sendiri yang mulai sadar skincare dan makeup untuk mereview produk keluaran Cina yang lagi ngehits banget dan katanya berkualitas tapi harganya murah. Banyak beauty vloger yang sudah mereview dan suka dengan produk-produknya. Sebelum akhirnya saya memutuskan untuk mencoba sendiri, ada beberapa hal yang cukup membuat maju mundur untuk beli. Selain nggak tahu harus beli darimana di Jepang, keamanan dan kehalalan produk juga agak bikin waswas. Alhamdulillah setelah berhari-hari cari info, katanya focallure ini diproduksi oleh perusahaan yang biasa menjadi supplier brand lain dan di Indonesia sedang diurus izin BPOM dan halal MUI nya. 

dua eyeshadow palette menggoda iman

Untuk pembelian produknya, saya beli di Focallure Official Store di AliExpress. Kalau dibandingkan dengan makeup keluaran Jepang, harganya jelas lebih murah, dan tersedia pilihan free shipping (15-31 hari pengiriman ke Jepang). Di AliExpress juga banyak potongan harga yang ditawarkan, membuat harga akhirnya semakin murah. Beberapa hari yang lalu, pesanan saya sampai dengan pengemasan yang sangat rapi. Berhubung lagi semangat-semangatnya blogging, yuk dibahas satu-satu :p

Sweet as Honey
Walaupun harganya murah, packagingnya kokoh dan sama sekali nggak terlihat murahan. Selain itu, di sisi lain palette juga disediakan cermin, jadi lebih praktis nggak perlu membawa cermin tambahan. Di dalamnya ada 18 warna yang tersedia di Sweet as Honey eyeshadow palette, dengan komposisi seimbang 9 warna matte dan 9 warna shimmer. Pertama kali buka, langsung nggak sabar untuk swatch warna-warna cantik ini. Tekstur eyeshadownya lembut, nggak terlalu susah untuk diblend, powderynya masih termaafkan, dan cukup tahan lama. Seperti eyeshadow matte pada umumnya *di sini saya cuma sok ngerti sih wkwkkw*, sebagian besar pigmentasinya nggak sebagus warna-warna shimmer. Tapi, warnanya cukup terlihat setelah diaplikasikan ke kelopak mata (warna kulit saya kuning - agak gelap), kecuali warna Cosmic Latte yang adalah warna paling terang di palette ini. Warna-warna mattenya juga cukup aplikatif untuk digunakan sehari-hari tanpa terlihat berlebihan. Sedikit tambahan warna shimmer di kelopak mata juga bisa makin mempercantik riasan mata sehari-hari.

Focallure Sweet as Honey Eyeshadow Palette

Warna matte dengan pigmentasi terbaik di palette ini adalah Cordovan, Myrtle, dan Turkish Rose. Sedangkan untuk warna shimmernya, Pure Copper, Chamoisee, dan Trevi Fountain juara banget. Untuk digunakan sehari-hari, saya suka mengkombinasikan Deep Peach, Pale Chestnut, Turkish Rose dengan sedikit Chamoisee atau Pure Copper. Warna Danger dan Hypnotism terlihat cantik misterius, tapi ternyata setelah di swatch konsistensi warnanya ada di glitternya yang nggak terlalu pigmented.

Twilight
Packagingnya hampir sama dengan Sweet as Honey, yang berbeda adalah komposisi warnanya. Di edisi Twilight eyeshadow palette ini lebih banyak warna shimmer, yaitu 10 warna berbanding 8 warna matte. Pilihan warnanya juga sesuai dengan namanya, cantik hangat dewasa nggak yakin yang baca mengerti sih wkwkwk. Dua warna paling terang, Naked dan Camel, nggak terlalu muncul di kulit saya. Meskipun warna matte nya nggak terlalu juara, tapi warna shimmernya lebih bagus dibanding Sweet as Honey. Kombinasi kesukaan saya adalah Tangerine, Tiramisu dengan salah satu dari Copper Rose, Sunrise, Party, Ruby, Needfire..oh well, I love all the shimmery colors in this palette!! Tinggal menyesuaikan saja mau yang bold atau kalem-kalem antara ada dan tiada. Dari segi tekstur, eyeshadownya juga lembut, nggak terlalu susah untuk diblend, tahan lama, dan powderynya juga masih termaafkan :)

Focallure Twilight Eyeshadow Palette

Overall, saya suka dengan dua eyeshadow palette ini. Apalagi harganya super terjangkau dan bersahabat di kantung mahasiswa, cocok banget untuk pemula yang ingin belajar makeup. Mungkin saya akan membeli jenis lainnya. Let see! :p



Wednesday, January 16, 2019

seberapa mahal biaya hidup di Jepang?

Bukan rahasia kalau biaya untuk bertahan hidup di Jepang jauh lebih mahal dibanding di Indonesia. Tapi, berapa sih sebenarnya biaya bulanan mahasiswa di Jepang? Melalui tulisan ini saya ingin berbagi sedikit gambaran tentang kira-kira berapa mahal biaya hidup di Jepang, khususnya pelajar. Ini berdasarkan pengalaman saya pribadi ya, jadi mungkin ada sedikit perbedaan untuk yang tinggal di kota yang berbeda.

TEMPAT TINGGAL
Harus diakui, biaya sewa tempat tinggal adalah pengeluaran terbesar untuk pelajar Indonesia yang tinggal di Jepang (di luar biaya kuliah bagi yang nggak dapat full scholarship). Selain biaya masuk apato (apartemen) yang bisa sampai 200.000 yen atau sekitar 20 juta rupiah lebih, biaya sewa bulanannya juga nggak murah. Untuk sewa apato 1R ukuran 15 m2 di kota agak besar, dibutuhkan biaya sekitar 25.000 - 30.000 yen per bulan termasuk biaya perawatan. Sementara untuk tempat tinggal yang agak lebih besar (20 - 25 m2) biaya sewanya sekitar 35.000 - 40.000 yen. Seperti yang sudah saya bahas di tulisan tentang tempat tinggal, ada beberapa faktor yang mempengaruhi biaya sewa suatu properti. Di Tokyo misalnya, harga sewa apato dengan klasifikasi yang sama bisa dua kali lipat dibanding kota lainnya. Tapi, umumnya mahasiswa asing di Jepang menyewa tempat tinggal dengan kisaran 25.000 - 50.000 yen per bulan.

MAKANAN
Satu kali makan di luar, kita bisa menghabiskan uang setidaknya 500 yen. Kantin di kampus, atau restoran cepat saji seperti sukiya, menyediakan menu makan yang relatif lebih murah. Tapi, kalau diakumulasi selama 30 hari, kita harus mengalokasikan sekitar 45.000 yen hanya untuk kebutuhan makan saja. Biasanya, mahasiswa asing memilih untuk memasak sendiri dan sesekali makan di luar. Sehingga, dalam satu bulan dibutuhkan anggaran sekitar 20.000 - 25.000 yen. Nggak kalah penting untuk kalian tahu, meskipun harga barang-barang di Jepang cukup homogen, tapi ada perbedaan harga yang lumayan antara belanja di konbini (convenient store) dan suupa (supermarket). Tempat perbelanjaan juga biasanya punya hari tertentu di mana harga beberapa barang yang dijual lebih murah atau pembelian dengan kartu anggota mendapatkan potongan harga. Sebagai mahasiswa di tanah rantau, saya sebisa mungkin memanfaatkaan kesempatan belanja murah ini sebaik-baiknya.

satu set donburi 1000an yen

GAS, LISTRIK, AIR
Tiga kebutuhan ini memang paling membuat deg-degan karena jumlahnya bisa berubah-rubah. Ada beberapa properti yang menerapkan sistem tagihan flat untuk air seperti di apato saya sebelumnya, tapi nggak sedikit juga yang menerapkan sistem meteran. Jenis kompor yang digunakan juga akan sangat berpengaruh pada tagihan gas dan listrik, karena kompor listrik menggunakan daya litrik yang nggak sedikit dan sering membuat tagihan kita membengkak. Biaya yang dibutuhkan untuk ketiga jenis pengeluaran ini sekitar 8.000 - 15.000 yen tergantung musim. Biaya listrik dan gas bisa meningkat tajam di musim dingin hahaha.

Baca juga: pengalaman kuliah master di Jepang

TELEPON DAN INTERNET
Di Jepang, ada tiga provider utama telepon selular, Docomo, AU, dan softbank. Handphone yang dijual di Jepang pun kebanyakan dikunci, sehingga kita harus membeli di salah satu provider tersebut. Walaupun sebenarnya ada pilihan untuk membeli sim free phone atau cuma membeli sim card saja dan menggunakan handphone yang dibawa dari negara asal. Dua opsi terakhir ini menawarkan harga bulanan yang lebih murah dan ketika pulang for good, kita nggak perlu meng-unlock handphone yang dibawa pulang. Ohiya, bagi yang berstatus mahasiswa atau masih dibawah 25 tahun, jangan lupa untuk menanyakan potongan harga. Karena biasanya provider memberikan potongan harga bulanan untuk anak muda.

Anggaran yang harus dialokasikan untuk kebutuhan komunikasi ini sangat bervariasi. Paket bulanan untuk handphone (di luar tagihan cicilan handphone jika menyicil) berkisar antara 3.500 - 8.000 yen tergantung usia, pekerjaan, dan paket yang diambil. Sementara untuk internet, biasanya dibutuhkan dana sekitar 5.000 yen perbulan untuk bisa menikmati internet sepuasnya, dan provider juga ada yang menawarkan potongan biaya kalau menggunakan provider yang sama untuk handphone dan internet di rumah.

PERSONAL CARE
Anggarannya jelas berbeda antara perempuan dan laki-laki ya, you know why wkwkkw. Sabun mandi ukuran 500 g harganya berkisar 500 yen, sampo ukuran 400 g juga berkisar di harga yang sama. Diluar skincare, biasanya saya menghabiskan sekitar 3000 - 4000 yen perbulan untuk toiletries dasar (karena nggak perlu beli setiap bulan kan ya). Untuk skincare dan kosmetik tentunya sangat menyesuaikan dengan pribadi masing-masing, kalau semua belinya barang-barang high end 20.000  yen sebulan juga kurang kayaknya. Untuk yang mau benar-benar on budget, Daiso dan toko 100 yen lainnya juga menjual produk skincare dan kosmetik yang cukup bervariasi dan beberapa ada yang cukup terkenal. Brand seperti Canmake yang pangsa pasarnya adalah remaja, harganya juga relatif lebih murah. Image dari brand ini seperti Emina menurut saya.

Untuk urusan rambut, harga potong rambut untuk laki-laki termurah yang pernah (suami) saya temukan sekitar 1000 yen. Sedangkan untuk perempuan, relatif lebih mahal. Saya sendiri belum pernah menggunakan jasa potong rambut di Jepang, karena lokasi yang hijaber friendly lokasinya jauh dari rumah. Tapi, kalau sekilas lihat dari papan harganya, berkisar di 5000 yen.

Baca juga: pertimbangan memilih kampus di Jepang

TRANSPORTASI
Poin ini agak susah diprediksi, karena sangat bergantung lokasi dan jarak tempuh harian. Di Nagoya, biaya untuk naik subway sekali jalan adalah 200 - 300 yen, sedangkan bis kota 210 yen. Tiket langganan mahasiswa nggak lebih dari 12.000 yen/bulan untuk bebas menggunakan subway dan bis kota sepuasnya. Tapi, kalau kita cuma berlangganan suatu rute subway tertentu, harga perbulannya nggak sampai 7.000 yen. Banyak mahasiswa single memilih tinggal di daerah sekitar kampus yang bisa ditempuh dengan jalan kaki. Jadi, biaya transportasi bisa ditekan, ditambah dengan adanya donichi eco kippu untuk keliling Nagoya di hari libur.

To sum up everything, kebutuhan pokok mahasiswa asing single di Jepang perbulan biasanya sekitar 87.000 yen dengan rincian:

Tempat tinggal   40.000 yen
Makan                25.000 yen
Gas, listrik, air   10.000 yen
Komunikasi       12.000 yen
Toiletries              5.000 yen
Transportasi         5.000 yen

Semoga bermanfaat :)

PS: teman-teman yang punya pertanyaan tentang Jepang, silakan komen di sini ya.

Tuesday, January 15, 2019

winter favorite survival items

Entah karena faktor usia yang semakin renta atau memang kondisi yang semakin nggak bersahabat, cukup butuh usaha ekstra untuk menghadapi musim dingin kali ini. Mulai dari angin gedebag gedebug yang membuat mudah masuk angin, banyaknya orang yang terkena flu, sampai kulit kering karena tingkat humiditas yang rendah. Ada beberapa produk yang sangat membantu saya di musim dingin kali ini, apa saja sih?

1. Hada Labo Gokujyun Premium Lotion
Buat yang mengikuti perkembangan skincare, mungkin sudah nggak asing dengan Hada Labo karena memang cukup banyak dibahas oleh beauty vloger di Indonesia. Kelebihan yang diklaim oleh produk ini adalah kandungan 5 jenis hyaluronic acid di dalamnya yang mampu melembabkan dengan sangat baik. Hyaluronic acid sendiri merupakan senyawa yang sudah sangat terkenal dengan kemampuannya untuk menahan air dan mencegah kulit kehilangan kelembapannya.

tiga kesayangan andalan musim dingin

Pertama kali mencoba produk ini, langsung jatuh cinta sama teksturnya yang lumayan kental tapi cepat meresap di kulit. Kalau lagi buru-buru dan cuma sempat pakai lotion pun, kulit muka relatif nggak kering di malam hari. Harganya pun nggak terlalu mahal dan bisa dibeli dengan mudah di Jepang, karena ini drugstore product. Luv banget sama produk ini.

2. MUJI Moisturizing Milk - High Moisture
Sekitar akhir tahun 2016 yang lalu, iseng mencoba beauty products nya MUJI. Dari mulai oil cleanser sampai all in one essence sudah pernah saya coba. Awalnya agak kaget karena ternyata MUJI juga memproduksi barang-barang kecantikan dengan kualitas bersaing. Walaupun sudah nggak menggunakan produk yang lain, sampai sekarang masih tetap secinta itu dengan moisturizing milknya, cuma ganti tingkat kelembapannya tergantung musim. Di musim dingin, varian high moisture jadi pilihan karena kondisi lingkungan yang memang lebih kering. Varian dengan tingkat kelembapan yang lebih tinggi punya tekstur yang lebih kental (dan harga yang lebih mahal), tapi tetap relatif cepat meresap ke kulit. Ohiya, yang warna putih ini dari seri kulit sensitif, jadi kalian nggak perlu khawatir untuk mencoba. Hal yang nggak kalah keren, walaupun kualitasnya bagus, harga beauty products MUJI terjangkau. It's worth the money!

3. UNIQLO Ultra Light Weight Jacket
Angin di musim dingin adalah salah satu hal yang nggak diharapkan, bukan cuma bisa membuat suhu jadi semakin terasa dingin, tapi juga bisa membuat masuk angin. Walaupun UNIQLO punya line blocktech yang mengklaim bisa menahan angin, produk ini cukup membantu menjalankan fungsi yang sama. Selain itu, bahannya ringan dan bisa dilipat tanpa menghabiskan banyak ruang penyimpanan. Sangat cocok sebagai jaket tambahan saat traveling. Menurut sumber (yang saya lupa darimana), katanya jaket ini setara dengan 2x hangatnya heattech. Tapi, satu hal yang pasti, jaket ini sangat membantu mengurangi intensitas saya masuk angin di musim dingin.

Dari 3 produk tersebut, ada yang pernah mencoba? Apapun yang kalian pakai di musim dingin, jangan lupa banyak minum air putih ya biar tetap terhidrasi. Semoga bermanfaat :)

PS: teman-teman yang punya pertanyaan tentang Jepang, silakan komen di sini ya.