Thursday, May 17, 2018

winter in kansai

Haloo! Ternyata buat orang kayak saya yang lebih suka nulis puisi dibanding nulis cerita panjang lebar, mempertahankan konsistensi menulis di blog itu hal yang berat. Padahal sejak tahun lalu dikomporin untuk nulis pengalaman di blog, ada banyak draft yang akhirnya sampai sekarang belum dipublish *sediih* Jadi, sekarang saya mau cerita tentang hal yang ringan-ringan aja kali ya mungkin lebih gampang nulisnya hahaha. Tulisan ini tentang short escape kami ke daerah Kansai. Meskipun ini sudah kesekian kalinya kami ke sini, tapi ini pertama kali kami pergi bersama *hazeek* :))

Dalam perjalanan kali ini, kami berencana untuk mengunjungi 4 kota (Osaka, Kyoto, Nara, dan Kobe) dan memutuskan untuk menyewa penginapan di dua tempat, Osaka dan Kyoto. Menurut kami, biaya penginapan di Osaka relatif lebih murah dan mobilitas dari Osaka relatif mudah untuk mencapai 3 kota lainnya. Biaya transportasi ke Nagoya (dengan menggunakan JR bus) pun lebih murah dibandingkan dari Kyoto, walaupun secara jarak lebih jauh.

OSAKA
Sebelum memulai setiap perjalanan, saya selalu mencari detail tempat yang akan saya kunjungi, walaupun sudah kesekian kalinya pergi ke tempat tersebut. Hal ini untuk mengantisipasi adanya tempat baru yang luput dari pencarian saya sebelumnya. Apalagi untuk masalah kuliner, toko kuliner halal yang direkomendasikan selalu menjadi hal yang harus banget dilakukan hahaha. Walaupun untuk liburan singkat ini, kami memilih untuk jalan-jalan santai dan nggak dikejar itinerary, us time.

Katanya belum ke Osaka kalau belum foto di depan glico man yang berada di dotonbori. Jujur, sampai sekarang saya masih belum tahu kenapa dia sangat ikonik dan ramai orang berfoto di depannya. Ada yang berspekulasi mungkin billboard glico man yang paling besar di masanya, jadi sudah sangat membekas kalau ke Osaka ya harus berfoto di sana. Kalau saya, lebih suka berfoto malam hari ketika lampu-lampu billboardnya jadi sangat kontras dengan sekitar. Walaupun dibutuhkan kamera, teknik, dan fotografer yang lebih niat dibanding berfoto di saat matahari masih terang. Selesai berfoto, kita bisa berkeliling untuk berbelanja. Ada banyak banget toko di dotonbori ini, mulai dari disney store dan starbucks sampai toko untuk membeli omiyage (oleh-oleh). Makanya jangan heran kalau kalian ke daerah ini, lautan manusia menanti kalian.

Malam di Osaka.
Hari kedua, kami pergi ke Tsutenkaku di dekat Osaka Tennoji Zoo. Sering banget liat menara satu ini di drama yang mengambil latar belakang Osaka dan akhirnya kesampaian naik juga *terharu* Tsutenkaku ini sendiri jadi lambang dari shin-sekai (dunia baru) dan memiliki arti gedung leading to heaven. Ketika dibangun, tingginya 64 m dan merupakan gedung tertinggi di Asia Timur. Setelah terjadi kebakaran, menara ini direkonstruksi dan tingginya bertambah 39 m, menjadi 103 m. Di lobi tersedia arena kegiatan dan tempat berbelanja yang bebas dari tiket masuk. Untuk melihat seisi kota dari (hampir) puncak Tsutenkaku, biaya tiket masuknya adalah 600 yen (dewasa) / 500 yen (mahasiswa) / 400 yen (SMP - SMA) / 300 yen (anak-anak). Di sekitar Tsutenkaku ada pasar tradisional yang bisa dieksplorasi dan nggak seramai belanja di dotonbori. Kami sempat berencana main ke kebun binatang, tapi akhirnya kami menyerah dengan keinginan makan spaghetti nya saizeriya hahaha. Mengingat musim liburan sudah tiba dan wisatawan asing tumpah ruah di mana-mana, kami memutuskan untuk menghindari objek wisata yang pasti ramai, seperti Universal Studio Japan misalnya. Walaupun dalam hati ingin dan Pak Suami selalu pamer karena sudah pernah ke sana terlebih dahulu beberapa tahun yang lalu :(

KOBE
From here I am the guide toor karena doi belum pernah ke Kobe dan Nara. Ohiya, sebagai pemburu makanan halal di Jepang, saya suka banget sama restoran di JICA. Mungkin karena JICA adalah lembaga yang bersifat internasional, jadi mereka punya menu halal yang kadang susah banget menemukan menu tersebut di restoran lain di Jepang. Menu JICA favorit saya sampai saat ini Pho halal di JICA Yokohama, dan sampai saat ini setiap ke Yokohama berharap bakal ada Vietnam Week lagi demi Pho yang rasanya mirip bakso :( Nah, oleh karena itu kami bela-belain turun di stasiun yang agak jauh dengan tujuan kami demi ke JICA. Dari awal memang sempat khawatir sudah tutup karena sudah akhir tahun dan hampir semua instansi (bahkan beberapa restoran pun) tutup di akhir tahun. Ternyata benar, JICA nya tutup dan kami patah hati. Akhirnya kami ke McD demi satu set ebi burger (burger udang) sebelum lanjut ke Kitano Ijinkan.

Pak Suami itu tipe yang mempercayakan itinerary, apalagi kalau saya lebih berpengalaman di area tersebut. Kitano Ijinkan sendiri merupakan area di mana kita dibawa kembali ke awal abad 20 melalui rumah-rumah bergaya barat dan pernak-pernik khas barat. Ada tiga jenis tiket yang bisa dibeli, Premium Pass (3000yen dewasa, 800 yen anak-anak), Happy Pass (2100 yen dewasa, 500 yen anak-anak), dan Smile Pass (1400 yen dewasa, 300 yen anak-anak). Masing-masing tiket dapat digunakan untuk 8 rumah, 5 rumah, dan 3 rumah, respectively. Kalau membeli Premium Pass, kita juga bisa mendapatkan stamp book dan dress service. Saat membeli tiket, kita bisa memastikan waktu yang kita alokasikan dan waktu tempuh yang dibutuhkan untuk mengunjungi rumah-rumah tersebut kok. Jadi, tidak perlu takut dan bingung harus memilih pass yang mana. Rekomendasi saya untuk pecinta Sherlock Holmes, jangan lupa berkunjung ke English House yaa! ;)

Tempat favorit di Kitano Ijinkan XD
Sebelum hari benar-benar gelap, kami menyusuri gang-gang sempit demi mencari restoran halal yang masih buka. Alhamdulillah walaupun sudah hampir tahun baru, kami menemukan satu restoran halal yang pemiliknya sungguh ramah. Sambil menghangatkan tubuh dan mengisi perut sebelum melanjutkan perjalanan, kami sesekali ngobrol dengan pemilik restoran. Semakin banyak mendengar cerita hidup orang lain, semakin sadar bahwa setiap orang memiliki jalan hidup yang kita nggak pernah tahu, dan kita nggak berhak menghakimi *note to myself*

Kobe Port di malam hari sungguh indah meski angin gedebug terus menghantam T.T Karena tujuan kami memang ingin us time, kami hanya ngobrol-ngobrol santai di sekitar Port dan foto-foto sekitar. Butuh usaha ekstra untuk bisa mendapat foto yang mumpuni karena pencahayaan yang gelap sampai harus tahan nafas demi nggak bergerak sama sekali selama difoto tapi hasilnya cukup memuaskan untuk amatiran macam kami. Satu hal yang saya pelajari betul dari pengalaman ke Kobe Port ini adalah kamar mandi di Jepang itu punya jam buka. Iya, pengen nangis rasanya pas liat kamar mandinya sudah tutup dan nggak punya pilihan selain nyari kamar mandi lain yang lebih jauh dan jam bukanya relatif lebih panjang. Yang pasti buka 24 jam sih selain kamar mandi di taman, atau kamar mandi di konbini (convenient store).

NARA
Kalau disuruh mendeskripsikan Nara, saya akan memilih "kota yang mirip Bogor" karena banyak banget rusa berkeliaran. Tapi, yang dimaksud berkeliaran di sini bukan berkeliaran di halaman istana seperti di Bogor, mereka benar-benar berkeliaran di mana-mana dan kita bisa berinteraksi langsung dengan mereka. Bagi yang ingin memberi makan, rusa di sini nggak makan sayur-sayur seperti yang dijual emang-emang depan istana Bogor. Mereka hanya boleh diberi makan senbei yang dijual di sekitar para rusa berkeliaran. Kita juga harus hati-hati supaya nggak diseruduk, karena beberapa dari mereka lebih agresif dibanding yang lain.

Rusa pasti menghampiri yang bawa senbei.
Ohiya, selain main-main sama rusa, hal lain yang terkenal dari Nara adalah great budha. Sayangnya sedang ada renovasi besar-besaran, semoga berkesempatan main ke sana lagi sebelum pulang for good ke Indonesia :) di sekitar stasiun Nara juga ada pasar tradisional yang lumayan ramai. Ada toko pembuat mochi yang ramai banget, dan pada jam tertentu kita bisa melihat langsung proses pembuatannya. Ketika mengantri di toko mochi ini kami bertemu dengan orang Jepang yang ternyata sudah belasan tahun tinggal di Bandung. Ternyata ketika kami pulang dari Nara menuju Kyoto, kami berada di gerbong yang sama dengan Bapak tersebut. Kami sempat ngobrol dengan si Bapak sampai beliau turun beberapa stasiun setelah stasiun Nara, dan kami melanjutkan perjalanan ke Kyoto.

KYOTO
Sebagai tempat yang memang terkenal banget di kalangan wisatawan, berada Kyoto di tahun baru memang bukanlah pilihan yang terlalu tepat. Jumlah wisatawan asing yang tumpah ruah di mana-mana, membuat saya si mager tidak terlalu tertarik untuk ke mana-mana hahaha. Bahkan saya memutuskan untuk menonton kohaku di kamar setelah mencoba keluar dan nyaris nggak bisa berjalan di lautan manusia di tahun baru.

Hari terakhir sebelum kembali ke Nagoya, kami ke Arashiyama dan sekitarnya. Aura Jepang di daerah ini berasa banget meskipun dinginnya Kyoto hari itu sungguh menggoda iman untuk bergulung-gulung dalam selimut saja. Setelah menikmati indahnya bambu di Arashiyama dan makan siang dan makan gorengan di restoran halal, kami memutuskan untuk berkunjung ke Arashiyama Monkey Park. Mengingat untuk sampai ke taman monyet kita harus mendaki sekitar 30 menit, awalnya sempat ragu walaupun akhirnya masuk juga. Makhluk jarang olahraga macam saya ini sampai atas tentu ngos-ngosan banget, tapi pemandangan Kyoto dari atas memang bagus sih. Seperti di Nara, kita tidak diperbolehkan untuk memberi makan sembarangan kepada monyet, hanya boleh memberi makanan yang dijual di taman dan memberi makannya pun harus melalui rumah yang disediakan. Mungkin takut tangan kita cedera kali ya kalau memberi makan secara langsung. Nggak jarang para monyet ini saling berdiskusi, bercengkrama, sampai bertengkar heboh. Kalau kalian berkunjung ke sini, hati hati ya jangan sampai kalian jongkok atau menjatuhkan barang selama di Monkey Park. Para monyet sangat sigap mengambil barang yang jatuh, walaupun mas-mas penjaganya nggak kalah sigap. Ada seorang wisatawan asing nggak sengaja menjatuhkan tutup lensanya dan diambil salah satu monyet. Dengan sigap, si penjaga mengejar monyet dan merebut barang yang diambil untuk dikembalikan ke yang punya. Luar biasa memang :"

Gatau kenapa kalau ngeliat yang kayak begini keinget acara Spontan Uhuy! Hahaha
Berhubung bus yang membawa kita pulang ke Nagoya masih malam hari, kami menyempatkan diri makan di salah satu restoran di Stasiun Kyoto. Bisa dipastikan restoran tersebut cukup populer, karena antriannya panjang dan restoran ini merupakan restoran rekomendasi Pak Suami. Untuk review makanan insyaAllah akan saya buat postingan terpisah dan di link ke postingan ini. Selesai makan, perut kenyang, kaki pegal, kami siap pulang kembali ke rumah :)

0 komentar:

Post a Comment