Friday, May 18, 2018

persiapan pindahan di Jepang

Waktu baru akan berangkat ke Jepang, atau sudah sampai dan mau pindah dari asrama, sempat bertanya-tanya apa saja yang harus disiapkan untuk pindah ke apato (apartemen). Walaupun namanya apato, tapi bentuknya sebenarnya nggak semewah itu, sejenis kosan di Indonesia.

Di Jepang, sebagian besar penyewaan properti dilakukan melalui agen, walaupun ada beberapa properti yang masih dikelola langsung oleh pemilik. Kelebihan dari properti yang dikelola langsung adalah biaya yang relatif lebih murah karena nggak harus melakukan transaksi via agen. Namun dibutuhkan usaha yang lebih besar untuk mencari informasi, karena biasanya nggak terpublikasi secara luas.

Agen sendiri biasanya selain memiliki kantor cabang, juga memiliki website yang bisa kita akses untuk mencari ketersediaan properti yang diinginkan. Selain itu, ada juga website yang mengakomodasi berbagai agen, seperti suumo. Sehingga mempermudah calon penyewa untuk melihat properti yang tersedia dari berbagai agen di daerah tersebut. Yang perlu diingat, bahwa beberapa pemilik properti tidak menerima orang asing di properti mereka. Sehingga jangan terlalu patah hati kalau ternyata aplikasi kalian ditolak karena kalian orang asing.

Salah satu website yang mengakomodasi berbagai agen penyedia jasa properti. 
Selanjutnya, apa beda apato dan mansion? Sebelum pindah dari asrama, saya pribadi sempat bingung dengan perbedaan kedua jenis properti tersebut. Kalau berbicara tentang mansion mungkin yang dibayangkan tempat yang mewah, dengan lampu-lampu mahal di setiap ruangan. Tapi di Jepang, mansion hanya sedikit berbeda dengan apato, atau bahkan hanya penamaannya saja yang beda. Biasanya secara konstruksi, mansion memiliki konstruksi yang lebih kuat dibanding apato. Dinding antar kamar dibuat lebih tebal sehingga relatively meredam suara dari dan ke luar kamar. Selain itu, biasanya jumlah unit mansion lebih banyak dibanding apato. Setahu saya, harga mansion tidak selalu lebih mahal dibanding apato, karena faktor lokasi, dan tahun dibangun biasanya lebih menentukan harga sewa.

Lalu, apa yang dimaksud dengan R, L, D, dan K? Ketika kita mencari tempat tinggal, kita diminta preferensi mengenai ruangan yang ingin kita sewa. 1R merupakan satuan terkecil yang tersedia, yaitu 1 Room. Artinya, ruangan yang akan disewa hanya memiliki satu ruangan (kamar mandi tetap berpintu sendiri). Saya pribadi tidak terlalu suka dengan jenis kamar ini, karena kamar mandi dan dapur bisa terlihat langsung dari tempat tidur. Ketika musim panas atau musim dingin, luas area yang harus didinginkan atau dipanaskan cukup luas sehingga menambah penggunaan listrik. Ketika masih tinggal sendiri, saya lebih memilih tinggal di kamar 1K, 1DK, atau 1LDK. Pengertian dari huruf-huruf tersebut adalah Living, Dining, dan Kitechen untuk L, D, K, respectively. Sementara angka 1 menjelaskan jumlah kamar tidur yang tersedia, misalnya 2LDK berarti properti tersebut memiliki 2 kamar, ruang tamu, dapur, dan ruang makan terpisah. Nggak jarang, ruang tamu, dapur, dan ruang makan menjadi satu kesatuan sehingga ruangannya menjadi besar banget. Biasanya di denah properti akan dicantumkan besarnya ukuran ruangan dalam satuan tatami, dengan satu tatami berukuran 180 cm x 90 cm.

Contoh denah properti di Jepang.
Sebelum memutuskan untuk menyewa apato/mansion, pastikan dulu beberapa hal berikut:
1. Biaya sewa
Biasanya biaya sewa dibayar perbulan, beberapa hari sebelum masuk ke bulan tersebut. Pastikan tanggal pembayarannya sesuai dengan anggaran keuangan, dan metode pembayaran. Beberapa pemilik properti memilih untuk melakukan pembayaran melalui transfer ke rekening pemilik, namun beberapa ada juga yang lebih memilih untuk autodebet dari rekening penyewa yang sudah terdaftar di agen.

2. Biaya maintenance
Besarnya biaya perawatan bergantung kebijakan dari pemilik properti, semakin bagus propertinya, maka semakin mahal pula biaya perawatannya. Pastikan total kedua biaya ini sudah masuk ke dalam anggaran bulanan kamu. Saat mau memilih properti, kamu juga bisa menyampaikan kepada agen batas anggaran untuk properti yang kamu inginkan termasuk dengan biaya perawatannya.


3. Lokasi
Semakin dekat lokasinya dengan stasiun, harga yang ditawarkan akan semakin mahal. begitupun sebaliknya. Biasanya jarak tempuh sekitar 1 km atau 10 menit jalan kaki dari stasiun masih nggak terlalu berat dan harganya lebih  bersahabat. Beberapa teman juga ada yang memilih tinggal di jutaku, rumah subsidi pemerintah bagi yang sudah menikahyang kebanyakan berlokasi lumayan jauh dari stasiun kereta tapi harganya murah banget.


4. Usia properti
Walaupun kebanyakan properti di Jepang nggak terlalu menyedihkan untuk ditinggali, nggak ada salahnya memastikan usia properti yang akan kamu sewa. Mengingat Jepang sering gempa, gedung-gedung yang usianya lebih baru biasanya memiliki ketahanan gempa yang lebih baik.


5. Fasilitas di dalam properti
Setiap properti memiliki fasilitas yang berbeda-beda. Beberapa sudah menyediakan pendingin/penghangat ruangan dan kompor, sementara yang lainnya benar-benar kosong. Hal ini penting menjadi pertimbangan karena jika properti yang akan disewa masih kosong, dibutuhkan anggaran tambahan untuk membeli barang-barang tersebut. 

6. Asuransi
Beberapa pemilik properti mewajibkan penyewa untuk memiliki asuransi atau penjamin. Biasanya, instasi seperti kampus atau tempat kerja memiliki tim yang bisa membantu kita dengan menjadi guarantor dengan harga yang jauh lebih murah. Tapi, kalau nggak ada, kita bisa menggunakan jasa perusahaan penyedia layanan penjamin yang harganya relatif lebih mahal.

Setelah memutuskan properti mana yang ingin disewa dan mengurus semua dokumen yang dibutuhkan serta membayar semua yang harus dibayar, kunci akan diserahkan sesuai perjanjian. Untuk pindah ke tempat tinggal baru, biasanya orang Jepang akan menggunakan jasa pindahan yang nggak jarang cukup mahal. Kebanyakan orang Indonesia yang tinggal di Jepang lebih memilih untuk menyewa mobil dan melakukan pindahan secara mandiri. Selain harga sewa mobil yang jauh lebih murah dibanding jasa pindahan, suasananya pindahan pun lebih kekeluargaan dan kita nggak perlu ngomong pakai bahasa Jepang hahaha. Biasanya sesama orang Indonesia di tanah rantau malah akan saling menawarkan bantuan kalau ada yang butuh bantuan seperti ini. Waktu pertama kali pindahan dari asrama, karena memang baru 6 bulan di Jepang dan sangat meminimalisasi pembelian barang, pindahan bisa dilakukan secara mandiri dan nggak butuh mobil untuk pindahan.

Ohiya, sebelum pindah, pastikan juga sudah menghubungi perusahaan listrik, gas, dan air untuk menyalakan ketiga layanan tersebut di hari kita pindah. Agen/pemilik properti akan memberi tahu perusahaan mana yang harus kita hubungi, dan sebaiknya jika tidak bisa bahasa Jepang, meminta bantuan kepada teman yang bisa berbahasa Jepang. Sedikit saran, untuk menghemat penggunaan listrik, bisa memilih properti yang menggunakan kompor gas. Karena penggunaan kompor listrik sungguh mahal *curhat* dan saya terharu dengan pengurangan tagihan listrik sejak pindah ke apato baru yang menggunakan kompor gas.

Semoga infonya bermanfaat ya :)

0 komentar:

Post a Comment