Sunday, May 20, 2018

memilih kampus di Jepang, apa saja pertimbangannya?

Menjadi mahasiswa tingkat akhir yang berniat melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi, saya sudah mulai merasa galau kemana sebaiknya melanjutkan pendidikan master dan doktor. Banyaknya kakak kelas yang sudah terlebih dahulu berkuliah di luar negeri, tentunya semakin memotivasi untuk mengikuti jejak mereka. Saat itu, saya sudah berkeinginan untuk berkuliah di Jepang, walaupun belum tahu mau ke universitas mana. Melalui tulisan ini saya mau bercerita tentang pertimbangan saya, hingga akhirnya memutuskan untuk berkuliah di Nagoya University. :)

1. Lab life
Salah satu perbedaan mendasar antara mahasiswa sarjana dan master adalah waktu yang dihabiskan di lab dan kedalaman keilmuan yang dipelajari. Oleh karena itu, menurut saya sangat penting untuk memastikan bahwa lab yang dituju memiliki ruang lingkup yang sesuai dengan research plan kita. Walaupun biasanya profesor sudah memiliki proyek yang harus dilakukan oleh mahasiswanya, tapi tema proyek ini saling berkaitan dan tidak jauh dari ruang lingkup penelitian lab. Beberapa profesor juga ada yang memberikan kebebasan mahasiswanya untuk mengerjakan penelitian yang diinginkan, terutama bagi mahasiswa doktoral. Tapi, tentu dengan tema yang masih berkaitan dengan penelitian di lab tersebut. Sebelum menyatakan keinginan untuk bergabung ke profesor di lab tujuan, saya juga sedikit kepo dengan jumlah mahasiswa asing dan bagaimana interaksi di lab berjalan. Kenapa dua hal ini penting bagi saya? Pertama, lab yang sudah memiliki mahasiswa asing artinya mereka sudah terbiasa dengan keberadaan mahasiswa asing, dan tentunya memperkecil kemungkinan kesulitas komunikasi bagi saya yang belum terlalu mahir berbahasa Jepang. Kedua, bukan rahasia umum kalau kebahagiaan di lab sangat dipengaruhi oleh hubungan yang baik antara profesor dan mahasiswanya. Setelah mempertimbangkan kedua faktor inilah akhirnya saya mantap mendaftar ke lab di Nagoya University :)

2. Reputasi Universitas
Masih ingat nggak zaman kelas XII dulu, ngecekkin daftar peringkat universitas untuk menentukan mau daftar ke kampus mana? Walaupun kualitas universitas di Jepang relatif lebih merata dibanding di Indonesia, saya tetap menganggap penting untuk mencoba masuk ke top universities. Nggak bisa dipungkiri kalau ketika berada diantara orang-orang berkualitas, kita pun jadi termotivasi untuk seperti mereka, ya nggak? :)) Di Jepang, Nagoya University adalah salah satu Imperial University dan selalu masuk 10 besar top university (tergantung parameter yang digunakan). Empat nobel laurates Jepang, berasal dari Nagoya University. Saya jadi semakin mantap untuk mendaftar ke kampus ini :D

3. Lokasi Universitas
Walaupun Nagoya nggak sefamous Tokyo, Kyoto, dan Osaka, keberadaan Nagoya di Chubu (中部) tentu menguntungkan secara geografis. Karena letaknya yang lumayan di tengah Jepang ini, kalau mau kemana-mana relatif gampang. Ke Tokyo hanya 2 jam dengan shinkansen, atau 5-6 jam menggunakan bis. Ke Kyoto atau Osaka hanya sekitar setengah dari perjalanan ke Tokyo. Selain itu, Nagoya juga kota yang lumayan enak untuk menetap, karena nggak seramai kota (sangat) besar dan nggak pedesaan juga. Buat yang suka keramaian kota kayak Jakarta sih ya mungkin nggak akan terlalu suka di Nagoya hahaha.

Nagoya Castle, salah satu tempat wajib wisatawan di Nagoya.
4. Sumber dana
Ini juga nggak kalah penting. Mengingat biaya hidup di Jepang itu mahal banget, saya memilih untuk nggak berangkat kalau nggak dapat beasiswa. Alhamdulillahnya sih proses aplikasi beasiswa lancar banget. Sebelum berangkat, saya kepo dulu tentang biaya hidup di Nagoya, dan menemukan guidance yang dikeluarkan langsung oleh kampus, bahwa secara normal dibutuhkan biaya sekitar 150.000 yen sebulan. Ya walaupun untuk orang Indonesia jumlahnya bisa lebih direduksi, tapi tentunya nggak bakal sama seperti kita ngekos di Bandung dulu kan. Penting banget juga bilang ke profesor tentang preferensi pendanaan kita. Kalau memang nggak mampu untuk bayar sendiri, jangan sungkan memberi tahu profesor. InsyaAllah dibantu untuk mencari beasiswa. Apalagi, zaman sekarang untuk mencari beasiswa sudah banyak banget kemudahannya :")

Semoga bisa sedikit mengobati kegalauan yang sedang mencari kampus ya. Cheers!

Saturday, May 19, 2018

donichi eco kippu, keliling Nagoya dengan murah

Jepang terkenal memiliki sistem tranportasi yang baik, bahkan nggak jarang mendengar berita pihak kereta minta maaf karena berangkat sekian detik lebih awal. Iya, berangkat lebih awal sekian detik saja mereka sampai minta maaf. Soal fasilitas jangan ditanya, super nyaman! Kalau di Indonesia mungkin kebanyakan orang lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi atau transportasi online, di sini bahkan idol Professor pun banyak yang naik kendaraan umum untuk mobilitas sehari-hari. Selain fasilitas yang nyaman, harganya pun (untuk kota besar) lebih murah dibanding menggunakan kendaraan pribadi. Biaya parkir di kota besar itu lumayan mahal, bisa sampai 200 yen/60 menit. Berbeda dengan kota yang lebih kecil, di mana memang kebanyakan warganya memiliki dan rutin menggunakan mobil pribadi.

Asiknya lagi, biasanya ada yang namanya one day pass atau tiket yang bisa digunakan seharian untuk menggunakan kendaraan umum di kota tersebut. Di Nagoya, harga one day pass dewasa 850 yen (bis kota + subway) / 740 yen (subway) / 600 yen (bis kota), sedangkan harga tiket anak-anak setengahnya. Tiket tersebut bisa dibeli di stasiun atau supir bis kota saat pertama kali naik. Selain itu, kalian bisa juga membeli tiket khusus untuk weekend atau hari libur, donichi eco kippu, seharga 600 yen (dewasa) dan 300 yen (anak-anak) untuk bisa menggunakan seluruh bis kota dan subway di Nagoya selama satu hari (kalau tidak salah) sampai last train. Bahkan, tiket ini bisa juga digunakan untuk mendapat potongan harga tiket masuk di tempat wisata. Daftar tempat mana saja yang menerima potongan dari donichi eco kippu ini bisa dilihat di booklet yang tersedia di stasiun, atau melalui website di sini. Potongan harganya bervariasi, misalnya saya pernah dapat potongan sebesar 200 yen tiket masuk Nagoya Aquarium dengan menunjukkan donichi eco kippu. Perlu diingat juga ya, tiket yang ditunjukkan adalah tiket yang valid bukan tiket yang sudah nggak berlaku lagi. Kalau potongan donichi dan kartu mahasiswa digabung, bisa lumayan banget lho potongannya. Saya pernah masuk museum dan hanya bayar 180 yen karena mengkombinasikan kedua kartu tersebut :D

Salah satu donichi eco edisi spesial.

Sebelum Oktober 2017 lalu, desain tiket one day pass yang dijual di mesin penjual tiket yang ada di stasiun menjual kartu yang berbentuk seperti kartu untuk telepon umum *duh ketahuan kan umur gue* Namun, sekarang tiketnya berbentuk kertas kecuali untuk donichi eco edisi spesial, misalnya Nagoya Women Marathon atau perayaan ulang tahun kereta Nagoya. Secara fungsi, tiket ini nggak ada bedanya dengan donichi yang biasa, tapi lumayanlah untuk koleksi hahaha. Biasanya di stasiun akan dipasang pengumuman kapan tiket spesial ini akan dijual, karena memang bersifat limited. Secara keseluruhan hanya tersedia 10000 lembar tiket yang disebar ke seluruh Nagoya, dan di beberapa tempat kadang tiket sudah habis nggak lama setelah mulai dijual.

Ohiya, ketika musim libur panjang seperti libur tahun baru atau Golden Week, ada donichi eco spesial yang dijual seharga 2000 yen/set. Dalam satu set terdapat 4 tiket, yang artinya harga satu tiketnya hanya 500 yen. Fungsinya hampir sama dengan donichi biasa, bedanya set ini memiliki batas waktu penggunaan dan nggak bisa digunakan lagi kalau sudah lewat masa waktunya. Tapi, kalian nggak perlu khawatir, setiap set dijual dalam amplop kecil dan didepannya ada tanggal berlakunya tiket, dan biasanya penjaga loket akan memastikan kita tahu masa berlaku tiketnya. Sama seperti donichi edisi spesial, set tiket ini pun dijual terbatas.

Salah satu dari empat tiket di set donichi eco kippu dan tike masuk Shirotori Garden.
Sebelum berlangganan tiket kereta dan bis kota, saya sangat senang menggunakan donichi eco. Selain menyelamatkan dari kebosanan diam di apato doang, potongan masuk objek wisatanya pun lumayan banget. Biasanya sebelum pergi saya akan menyusun alur jalan, sehingga penggunaan tiketnya bisa maksimal *tipikal nggak mau rugi* hahaha. Untuk yang mau tahu ada atau tidak donichi eco edisi spesial, bisa langsung lihat di papan pengumuman di stasiun atau lihat di Twitter. Biasanya ada yang berbaik hati membagikan infonya di Twitter hahaha.

Duh terharu bisa menulis tiga hari berturut-turut :") Belakangan ini minat saya untuk menulis memang sedang tinggi, ntah karena rindu menulis (puisi) atau sedang mencari pelarian sejenak dari penatnya PhD life hahaha. Walaupun kata Pak Suami baca tulisan saya kadang kayak baca undang-undang, tapi yasudahlah yaa yang penting semoga stress saya hilang tulisannya bermanfaat dan bisa konsisten terus berbagi ilmu yang masih cetek ini. Selamat berakhir pekan! ;)

Friday, May 18, 2018

persiapan pindahan di Jepang

Waktu baru akan berangkat ke Jepang, atau sudah sampai dan mau pindah dari asrama, sempat bertanya-tanya apa saja yang harus disiapkan untuk pindah ke apato (apartemen). Walaupun namanya apato, tapi bentuknya sebenarnya nggak semewah itu, sejenis kosan di Indonesia.

Di Jepang, sebagian besar penyewaan properti dilakukan melalui agen, walaupun ada beberapa properti yang masih dikelola langsung oleh pemilik. Kelebihan dari properti yang dikelola langsung adalah biaya yang relatif lebih murah karena nggak harus melakukan transaksi via agen. Namun dibutuhkan usaha yang lebih besar untuk mencari informasi, karena biasanya nggak terpublikasi secara luas.

Agen sendiri biasanya selain memiliki kantor cabang, juga memiliki website yang bisa kita akses untuk mencari ketersediaan properti yang diinginkan. Selain itu, ada juga website yang mengakomodasi berbagai agen, seperti suumo. Sehingga mempermudah calon penyewa untuk melihat properti yang tersedia dari berbagai agen di daerah tersebut. Yang perlu diingat, bahwa beberapa pemilik properti tidak menerima orang asing di properti mereka. Sehingga jangan terlalu patah hati kalau ternyata aplikasi kalian ditolak karena kalian orang asing.

Salah satu website yang mengakomodasi berbagai agen penyedia jasa properti. 
Selanjutnya, apa beda apato dan mansion? Sebelum pindah dari asrama, saya pribadi sempat bingung dengan perbedaan kedua jenis properti tersebut. Kalau berbicara tentang mansion mungkin yang dibayangkan tempat yang mewah, dengan lampu-lampu mahal di setiap ruangan. Tapi di Jepang, mansion hanya sedikit berbeda dengan apato, atau bahkan hanya penamaannya saja yang beda. Biasanya secara konstruksi, mansion memiliki konstruksi yang lebih kuat dibanding apato. Dinding antar kamar dibuat lebih tebal sehingga relatively meredam suara dari dan ke luar kamar. Selain itu, biasanya jumlah unit mansion lebih banyak dibanding apato. Setahu saya, harga mansion tidak selalu lebih mahal dibanding apato, karena faktor lokasi, dan tahun dibangun biasanya lebih menentukan harga sewa.

Lalu, apa yang dimaksud dengan R, L, D, dan K? Ketika kita mencari tempat tinggal, kita diminta preferensi mengenai ruangan yang ingin kita sewa. 1R merupakan satuan terkecil yang tersedia, yaitu 1 Room. Artinya, ruangan yang akan disewa hanya memiliki satu ruangan (kamar mandi tetap berpintu sendiri). Saya pribadi tidak terlalu suka dengan jenis kamar ini, karena kamar mandi dan dapur bisa terlihat langsung dari tempat tidur. Ketika musim panas atau musim dingin, luas area yang harus didinginkan atau dipanaskan cukup luas sehingga menambah penggunaan listrik. Ketika masih tinggal sendiri, saya lebih memilih tinggal di kamar 1K, 1DK, atau 1LDK. Pengertian dari huruf-huruf tersebut adalah Living, Dining, dan Kitechen untuk L, D, K, respectively. Sementara angka 1 menjelaskan jumlah kamar tidur yang tersedia, misalnya 2LDK berarti properti tersebut memiliki 2 kamar, ruang tamu, dapur, dan ruang makan terpisah. Nggak jarang, ruang tamu, dapur, dan ruang makan menjadi satu kesatuan sehingga ruangannya menjadi besar banget. Biasanya di denah properti akan dicantumkan besarnya ukuran ruangan dalam satuan tatami, dengan satu tatami berukuran 180 cm x 90 cm.

Contoh denah properti di Jepang.
Sebelum memutuskan untuk menyewa apato/mansion, pastikan dulu beberapa hal berikut:
1. Biaya sewa
Biasanya biaya sewa dibayar perbulan, beberapa hari sebelum masuk ke bulan tersebut. Pastikan tanggal pembayarannya sesuai dengan anggaran keuangan, dan metode pembayaran. Beberapa pemilik properti memilih untuk melakukan pembayaran melalui transfer ke rekening pemilik, namun beberapa ada juga yang lebih memilih untuk autodebet dari rekening penyewa yang sudah terdaftar di agen.

2. Biaya maintenance
Besarnya biaya perawatan bergantung kebijakan dari pemilik properti, semakin bagus propertinya, maka semakin mahal pula biaya perawatannya. Pastikan total kedua biaya ini sudah masuk ke dalam anggaran bulanan kamu. Saat mau memilih properti, kamu juga bisa menyampaikan kepada agen batas anggaran untuk properti yang kamu inginkan termasuk dengan biaya perawatannya.


3. Lokasi
Semakin dekat lokasinya dengan stasiun, harga yang ditawarkan akan semakin mahal. begitupun sebaliknya. Biasanya jarak tempuh sekitar 1 km atau 10 menit jalan kaki dari stasiun masih nggak terlalu berat dan harganya lebih  bersahabat. Beberapa teman juga ada yang memilih tinggal di jutaku, rumah subsidi pemerintah bagi yang sudah menikahyang kebanyakan berlokasi lumayan jauh dari stasiun kereta tapi harganya murah banget.


4. Usia properti
Walaupun kebanyakan properti di Jepang nggak terlalu menyedihkan untuk ditinggali, nggak ada salahnya memastikan usia properti yang akan kamu sewa. Mengingat Jepang sering gempa, gedung-gedung yang usianya lebih baru biasanya memiliki ketahanan gempa yang lebih baik.


5. Fasilitas di dalam properti
Setiap properti memiliki fasilitas yang berbeda-beda. Beberapa sudah menyediakan pendingin/penghangat ruangan dan kompor, sementara yang lainnya benar-benar kosong. Hal ini penting menjadi pertimbangan karena jika properti yang akan disewa masih kosong, dibutuhkan anggaran tambahan untuk membeli barang-barang tersebut. 

6. Asuransi
Beberapa pemilik properti mewajibkan penyewa untuk memiliki asuransi atau penjamin. Biasanya, instasi seperti kampus atau tempat kerja memiliki tim yang bisa membantu kita dengan menjadi guarantor dengan harga yang jauh lebih murah. Tapi, kalau nggak ada, kita bisa menggunakan jasa perusahaan penyedia layanan penjamin yang harganya relatif lebih mahal.

Setelah memutuskan properti mana yang ingin disewa dan mengurus semua dokumen yang dibutuhkan serta membayar semua yang harus dibayar, kunci akan diserahkan sesuai perjanjian. Untuk pindah ke tempat tinggal baru, biasanya orang Jepang akan menggunakan jasa pindahan yang nggak jarang cukup mahal. Kebanyakan orang Indonesia yang tinggal di Jepang lebih memilih untuk menyewa mobil dan melakukan pindahan secara mandiri. Selain harga sewa mobil yang jauh lebih murah dibanding jasa pindahan, suasananya pindahan pun lebih kekeluargaan dan kita nggak perlu ngomong pakai bahasa Jepang hahaha. Biasanya sesama orang Indonesia di tanah rantau malah akan saling menawarkan bantuan kalau ada yang butuh bantuan seperti ini. Waktu pertama kali pindahan dari asrama, karena memang baru 6 bulan di Jepang dan sangat meminimalisasi pembelian barang, pindahan bisa dilakukan secara mandiri dan nggak butuh mobil untuk pindahan.

Ohiya, sebelum pindah, pastikan juga sudah menghubungi perusahaan listrik, gas, dan air untuk menyalakan ketiga layanan tersebut di hari kita pindah. Agen/pemilik properti akan memberi tahu perusahaan mana yang harus kita hubungi, dan sebaiknya jika tidak bisa bahasa Jepang, meminta bantuan kepada teman yang bisa berbahasa Jepang. Sedikit saran, untuk menghemat penggunaan listrik, bisa memilih properti yang menggunakan kompor gas. Karena penggunaan kompor listrik sungguh mahal *curhat* dan saya terharu dengan pengurangan tagihan listrik sejak pindah ke apato baru yang menggunakan kompor gas.

Semoga infonya bermanfaat ya :)

Thursday, May 17, 2018

winter in kansai

Haloo! Ternyata buat orang kayak saya yang lebih suka nulis puisi dibanding nulis cerita panjang lebar, mempertahankan konsistensi menulis di blog itu hal yang berat. Padahal sejak tahun lalu dikomporin untuk nulis pengalaman di blog, ada banyak draft yang akhirnya sampai sekarang belum dipublish *sediih* Jadi, sekarang saya mau cerita tentang hal yang ringan-ringan aja kali ya mungkin lebih gampang nulisnya hahaha. Tulisan ini tentang short escape kami ke daerah Kansai. Meskipun ini sudah kesekian kalinya kami ke sini, tapi ini pertama kali kami pergi bersama *hazeek* :))

Dalam perjalanan kali ini, kami berencana untuk mengunjungi 4 kota (Osaka, Kyoto, Nara, dan Kobe) dan memutuskan untuk menyewa penginapan di dua tempat, Osaka dan Kyoto. Menurut kami, biaya penginapan di Osaka relatif lebih murah dan mobilitas dari Osaka relatif mudah untuk mencapai 3 kota lainnya. Biaya transportasi ke Nagoya (dengan menggunakan JR bus) pun lebih murah dibandingkan dari Kyoto, walaupun secara jarak lebih jauh.

OSAKA
Sebelum memulai setiap perjalanan, saya selalu mencari detail tempat yang akan saya kunjungi, walaupun sudah kesekian kalinya pergi ke tempat tersebut. Hal ini untuk mengantisipasi adanya tempat baru yang luput dari pencarian saya sebelumnya. Apalagi untuk masalah kuliner, toko kuliner halal yang direkomendasikan selalu menjadi hal yang harus banget dilakukan hahaha. Walaupun untuk liburan singkat ini, kami memilih untuk jalan-jalan santai dan nggak dikejar itinerary, us time.

Katanya belum ke Osaka kalau belum foto di depan glico man yang berada di dotonbori. Jujur, sampai sekarang saya masih belum tahu kenapa dia sangat ikonik dan ramai orang berfoto di depannya. Ada yang berspekulasi mungkin billboard glico man yang paling besar di masanya, jadi sudah sangat membekas kalau ke Osaka ya harus berfoto di sana. Kalau saya, lebih suka berfoto malam hari ketika lampu-lampu billboardnya jadi sangat kontras dengan sekitar. Walaupun dibutuhkan kamera, teknik, dan fotografer yang lebih niat dibanding berfoto di saat matahari masih terang. Selesai berfoto, kita bisa berkeliling untuk berbelanja. Ada banyak banget toko di dotonbori ini, mulai dari disney store dan starbucks sampai toko untuk membeli omiyage (oleh-oleh). Makanya jangan heran kalau kalian ke daerah ini, lautan manusia menanti kalian.

Malam di Osaka.
Hari kedua, kami pergi ke Tsutenkaku di dekat Osaka Tennoji Zoo. Sering banget liat menara satu ini di drama yang mengambil latar belakang Osaka dan akhirnya kesampaian naik juga *terharu* Tsutenkaku ini sendiri jadi lambang dari shin-sekai (dunia baru) dan memiliki arti gedung leading to heaven. Ketika dibangun, tingginya 64 m dan merupakan gedung tertinggi di Asia Timur. Setelah terjadi kebakaran, menara ini direkonstruksi dan tingginya bertambah 39 m, menjadi 103 m. Di lobi tersedia arena kegiatan dan tempat berbelanja yang bebas dari tiket masuk. Untuk melihat seisi kota dari (hampir) puncak Tsutenkaku, biaya tiket masuknya adalah 600 yen (dewasa) / 500 yen (mahasiswa) / 400 yen (SMP - SMA) / 300 yen (anak-anak). Di sekitar Tsutenkaku ada pasar tradisional yang bisa dieksplorasi dan nggak seramai belanja di dotonbori. Kami sempat berencana main ke kebun binatang, tapi akhirnya kami menyerah dengan keinginan makan spaghetti nya saizeriya hahaha. Mengingat musim liburan sudah tiba dan wisatawan asing tumpah ruah di mana-mana, kami memutuskan untuk menghindari objek wisata yang pasti ramai, seperti Universal Studio Japan misalnya. Walaupun dalam hati ingin dan Pak Suami selalu pamer karena sudah pernah ke sana terlebih dahulu beberapa tahun yang lalu :(

KOBE
From here I am the guide toor karena doi belum pernah ke Kobe dan Nara. Ohiya, sebagai pemburu makanan halal di Jepang, saya suka banget sama restoran di JICA. Mungkin karena JICA adalah lembaga yang bersifat internasional, jadi mereka punya menu halal yang kadang susah banget menemukan menu tersebut di restoran lain di Jepang. Menu JICA favorit saya sampai saat ini Pho halal di JICA Yokohama, dan sampai saat ini setiap ke Yokohama berharap bakal ada Vietnam Week lagi demi Pho yang rasanya mirip bakso :( Nah, oleh karena itu kami bela-belain turun di stasiun yang agak jauh dengan tujuan kami demi ke JICA. Dari awal memang sempat khawatir sudah tutup karena sudah akhir tahun dan hampir semua instansi (bahkan beberapa restoran pun) tutup di akhir tahun. Ternyata benar, JICA nya tutup dan kami patah hati. Akhirnya kami ke McD demi satu set ebi burger (burger udang) sebelum lanjut ke Kitano Ijinkan.

Pak Suami itu tipe yang mempercayakan itinerary, apalagi kalau saya lebih berpengalaman di area tersebut. Kitano Ijinkan sendiri merupakan area di mana kita dibawa kembali ke awal abad 20 melalui rumah-rumah bergaya barat dan pernak-pernik khas barat. Ada tiga jenis tiket yang bisa dibeli, Premium Pass (3000yen dewasa, 800 yen anak-anak), Happy Pass (2100 yen dewasa, 500 yen anak-anak), dan Smile Pass (1400 yen dewasa, 300 yen anak-anak). Masing-masing tiket dapat digunakan untuk 8 rumah, 5 rumah, dan 3 rumah, respectively. Kalau membeli Premium Pass, kita juga bisa mendapatkan stamp book dan dress service. Saat membeli tiket, kita bisa memastikan waktu yang kita alokasikan dan waktu tempuh yang dibutuhkan untuk mengunjungi rumah-rumah tersebut kok. Jadi, tidak perlu takut dan bingung harus memilih pass yang mana. Rekomendasi saya untuk pecinta Sherlock Holmes, jangan lupa berkunjung ke English House yaa! ;)

Tempat favorit di Kitano Ijinkan XD
Sebelum hari benar-benar gelap, kami menyusuri gang-gang sempit demi mencari restoran halal yang masih buka. Alhamdulillah walaupun sudah hampir tahun baru, kami menemukan satu restoran halal yang pemiliknya sungguh ramah. Sambil menghangatkan tubuh dan mengisi perut sebelum melanjutkan perjalanan, kami sesekali ngobrol dengan pemilik restoran. Semakin banyak mendengar cerita hidup orang lain, semakin sadar bahwa setiap orang memiliki jalan hidup yang kita nggak pernah tahu, dan kita nggak berhak menghakimi *note to myself*

Kobe Port di malam hari sungguh indah meski angin gedebug terus menghantam T.T Karena tujuan kami memang ingin us time, kami hanya ngobrol-ngobrol santai di sekitar Port dan foto-foto sekitar. Butuh usaha ekstra untuk bisa mendapat foto yang mumpuni karena pencahayaan yang gelap sampai harus tahan nafas demi nggak bergerak sama sekali selama difoto tapi hasilnya cukup memuaskan untuk amatiran macam kami. Satu hal yang saya pelajari betul dari pengalaman ke Kobe Port ini adalah kamar mandi di Jepang itu punya jam buka. Iya, pengen nangis rasanya pas liat kamar mandinya sudah tutup dan nggak punya pilihan selain nyari kamar mandi lain yang lebih jauh dan jam bukanya relatif lebih panjang. Yang pasti buka 24 jam sih selain kamar mandi di taman, atau kamar mandi di konbini (convenient store).

NARA
Kalau disuruh mendeskripsikan Nara, saya akan memilih "kota yang mirip Bogor" karena banyak banget rusa berkeliaran. Tapi, yang dimaksud berkeliaran di sini bukan berkeliaran di halaman istana seperti di Bogor, mereka benar-benar berkeliaran di mana-mana dan kita bisa berinteraksi langsung dengan mereka. Bagi yang ingin memberi makan, rusa di sini nggak makan sayur-sayur seperti yang dijual emang-emang depan istana Bogor. Mereka hanya boleh diberi makan senbei yang dijual di sekitar para rusa berkeliaran. Kita juga harus hati-hati supaya nggak diseruduk, karena beberapa dari mereka lebih agresif dibanding yang lain.

Rusa pasti menghampiri yang bawa senbei.
Ohiya, selain main-main sama rusa, hal lain yang terkenal dari Nara adalah great budha. Sayangnya sedang ada renovasi besar-besaran, semoga berkesempatan main ke sana lagi sebelum pulang for good ke Indonesia :) di sekitar stasiun Nara juga ada pasar tradisional yang lumayan ramai. Ada toko pembuat mochi yang ramai banget, dan pada jam tertentu kita bisa melihat langsung proses pembuatannya. Ketika mengantri di toko mochi ini kami bertemu dengan orang Jepang yang ternyata sudah belasan tahun tinggal di Bandung. Ternyata ketika kami pulang dari Nara menuju Kyoto, kami berada di gerbong yang sama dengan Bapak tersebut. Kami sempat ngobrol dengan si Bapak sampai beliau turun beberapa stasiun setelah stasiun Nara, dan kami melanjutkan perjalanan ke Kyoto.

KYOTO
Sebagai tempat yang memang terkenal banget di kalangan wisatawan, berada Kyoto di tahun baru memang bukanlah pilihan yang terlalu tepat. Jumlah wisatawan asing yang tumpah ruah di mana-mana, membuat saya si mager tidak terlalu tertarik untuk ke mana-mana hahaha. Bahkan saya memutuskan untuk menonton kohaku di kamar setelah mencoba keluar dan nyaris nggak bisa berjalan di lautan manusia di tahun baru.

Hari terakhir sebelum kembali ke Nagoya, kami ke Arashiyama dan sekitarnya. Aura Jepang di daerah ini berasa banget meskipun dinginnya Kyoto hari itu sungguh menggoda iman untuk bergulung-gulung dalam selimut saja. Setelah menikmati indahnya bambu di Arashiyama dan makan siang dan makan gorengan di restoran halal, kami memutuskan untuk berkunjung ke Arashiyama Monkey Park. Mengingat untuk sampai ke taman monyet kita harus mendaki sekitar 30 menit, awalnya sempat ragu walaupun akhirnya masuk juga. Makhluk jarang olahraga macam saya ini sampai atas tentu ngos-ngosan banget, tapi pemandangan Kyoto dari atas memang bagus sih. Seperti di Nara, kita tidak diperbolehkan untuk memberi makan sembarangan kepada monyet, hanya boleh memberi makanan yang dijual di taman dan memberi makannya pun harus melalui rumah yang disediakan. Mungkin takut tangan kita cedera kali ya kalau memberi makan secara langsung. Nggak jarang para monyet ini saling berdiskusi, bercengkrama, sampai bertengkar heboh. Kalau kalian berkunjung ke sini, hati hati ya jangan sampai kalian jongkok atau menjatuhkan barang selama di Monkey Park. Para monyet sangat sigap mengambil barang yang jatuh, walaupun mas-mas penjaganya nggak kalah sigap. Ada seorang wisatawan asing nggak sengaja menjatuhkan tutup lensanya dan diambil salah satu monyet. Dengan sigap, si penjaga mengejar monyet dan merebut barang yang diambil untuk dikembalikan ke yang punya. Luar biasa memang :"

Gatau kenapa kalau ngeliat yang kayak begini keinget acara Spontan Uhuy! Hahaha
Berhubung bus yang membawa kita pulang ke Nagoya masih malam hari, kami menyempatkan diri makan di salah satu restoran di Stasiun Kyoto. Bisa dipastikan restoran tersebut cukup populer, karena antriannya panjang dan restoran ini merupakan restoran rekomendasi Pak Suami. Untuk review makanan insyaAllah akan saya buat postingan terpisah dan di link ke postingan ini. Selesai makan, perut kenyang, kaki pegal, kami siap pulang kembali ke rumah :)