Friday, February 17, 2017

kuliah master di Jepang

Menjelang sidang tugas akhir (dan dikompori Mr. Ghuw untuk kembali aktif menulis), saya jadi sedikit banyak flashback ke masa awal kedatangan ke Jepang sampai sekarang. Dua setengah tahun bukan waktu yang sebentar. Di sini saya mau cerita sedikit tentang gimana saya mengawali sampai akhirnya menuntaskan studi master ini. Let's start! ;)


RESEARCH STUDENT

Sama seperti kebanyakan mahasiswa Indonesia lainnya yang baru mulai perkuliahan di luar negeri, saya merasakan euforia yang sulit dideskripsikan. Antusiasme untuk memulai sesuatu yang baru di negeri (yang cukup) jauh dari tanah kelahiran, membuat saya bersemangat untuk menghadapi lingkungan baru.

Satu bulan pertama, ada banyak hal yang harus diurus. Mulai dari mebuat rekening bank sampai pembelian handphone. Untuk urusan tempat tinggal, sebagian besar mahasiswa asing (setidaknya) di Nagoya University akan ditempatkan di asrama terlebih dahulu, sebelum pindah ke apartment (selanjutnya disebut apato). Harga sewa asrama berbeda-beda, biasanya bergantung pada fasilitas yang disediakan (shared facility atau private facility) dan tahun dibangunnya asrama. Secara lokasi, sebagian besar asrama terletak di jarak yang bisa ditempuh dengan jalan kaki. Saya ditempatkan di asrama yang berjarak sekitar 10-15 menit jalan kaki dari kampus (sekitar 25-30 menit dari asrama menuju lab saya) dengan fasilitas yang sangat baik dan biaya sewa yang tentunya masih jauh lebih murah dibandingkan dengan biaya sewa apato. Biasanya, mahasiswa asing mendapat kesempatan tinggal di asrama selama 6 bulan, dan bisa diperpanjang hingga maksimal 1 tahun setelah kedatangan. Berhubung biaya memulai kontrak apato nggak sedikit, selama tinggal di asrama kita bisa mulai mempersiapkan dana untuk pindahan. 

Sebagai penerima beasiswa monbusho, saya mengawali studi sebagai research student selama 6 bulan (periode dan kegiatan research student bervariasi bergantung kebijakan Professor yang bersangkutan). Pada masa ini saya memfokuskan diri untuk belajar bahasa Jepang, persiapan ujian masuk, dan beradaptasi dengan lab. Kegiatan belajar bahasa Jepang diselenggarakan setiap hari dengan dua pilihan, kelas reguler dan kelas intensif (setiap universitas memiliki program yang berbeda). Perbedaan antara kedua jenis kelas ini adalah dalam alokasi waktu belajar di kelas, dan materi yang disampaikan. Kelas intensif memiliki jam belajar dan materi dua kali lebih banyak dibanding kelas reguler. Bagi yang sudah memiliki kemampuan dasar bahasa jepang, bisa mengambil tes penempatan untuk dapat melanjutkan tanpa harus mulai dari awal. Selain sebagai sarana belajar bahasa jepang, bagi saya pribadi, kelas ini menjadi tempat membangun pertemanan dengan sesama mahasiswa asing di kampus. Mereka datang dari berbagai negara, dengan karakter dan gaya mereka masing-masing. Bertemu setiap hari di kelas intensif membuat kami saling kenal satu sama lain. Apalagi jumlah peserta di kelas kami semakin sedikit, kebanyakan yang bertahan adalah mahasiswa pertukaran pelajar yang nggak memiliki beban penelitian. Berkutat dengan padatnya kurikulum, menumpuknya tugas, dan banyaknya kuis, akhirnya berbuah manis. Sebelas orang yang tersisa di kelas saat itu dinyatakan lulus semua yeaay! :D

Berbeda dengan kelas bahasa jepang, persiapan ujian masuk merupakan kegiatan mandiri dan tidak dapat disama ratakan. Ujian masuk perguruan tinggi (khususnya di universitas saya) sangat bergantung pada fakultas dan pendanaan calon mahasiswa. Umumnya, semua calon mahasiswa baru mengikuti tes tertulis dan jika dinyatakan lulus tes tertulis dapat melanjutkan ke tes wawancara. Pada kasus saya, hanya perlu melakukan tes wawancara. Setelah dinyatakan lulus, saya dapat mengambil ancang-ancang untuk penelitian selama studi master. Sebenarnya, sejak awal bulan Desember saya sudah mulai megikuti start program atau program pengenalan lab. Dalam program ini saya diajarkan berbagai metode dasar kegiatan penelitian di lab, sehingga ketika memasuki studi master saya sudah lebih siap melakukan penelitian. Saya pun sudah mulai "mengkoleksi" paper sebagai bahan bacaan di tengah-tengah mengerjakan tugas kelas bahasa. Biasanya seusai kelas bahasa, saya menuju lab untuk makan bekal dan shalat. Kemudian mengerjakan semua tugas atau belajar untuk kuis (yes! we have quiz almost every day, sometimes two in one day) sebelum beralih ke lab related stuff. Pulang ke asrama setelah matahari tenggelam untuk kembali ke kampus tidak lama setelah matahari terbit (musim dingin matahari terbit lebih lambat) menjadi rutinitas selama satu semester.

Namun, dibalik semua kesibukan itu, sebenarnya masa-masa research student adalah masa yang paling santai dan patut dinikmati. Saya sempat menonton dua festival di enam bulan pertama ini, Nagoya Matsuri dan Inuyama Matsuri. Selain itu saya juga mengikuti program homestay selama akhir pekan di Inuyama. Bukan hanya merasakan tinggal di tengah keluarga Jepang, saya juga mengunjungi beberapa tempat menarik seperti Inuyama Castle dan Little World. Memasuki libur musim dingin, saya berkunjung ke salah satu situs warisan dunia, Shirakawa-go. Saya pun sempat menghabiskan waktu beberapa hari di daerah Kanto (Tokyo dan sekitarnya) setelah ujian masuk dan selesainya kelas bahasa Jepang. :)


MASTER COURSE

From here on, the real life started. Kenapa? Karena selain bertambahnya kelas yang harus diambil untuk memenuhi SKS, beban penelitian pun pastinya bertambah. Setidaknya ada dua pertemuan rutin yang harus dihadiri, paper seminar dan research seminar. Menurut saya, paper seminar lebih menantang dibandingkan dengan research seminar, karena kita diharuskan bisa menyampaikan pekerjaan orang lain dengan baik dan mampu menjawab pertanyaan yang muncul dalam sesi diskusi. Ya walapun research seminar juga bisa sangat menegangkan kalau kita lagi miskin data hahaha.

Selama perkuliahan master, saya diharuskan mengambil setidaknya 30 SKS dengan detail 2SKS matkul kategori A, 8 SKS matkul kategori B, 20 SKS matkul kategori C, dan 4 SKS matkul kategori D. Pengelompokkan mata kuliah ini saya nggak terlalu paham, tapi biasanya matkul pilihan itu ada di kategori C dan D. Dalam pengambilan mata kuliah ini sangat disarankan untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan dosen pembimbing. Karena banyak juga mata kuliah yang diambil merupakan mata kuliah khusus untuk lab tersebut.

Diluar mata kuliah master, kita bisa banget gabung ke leading program kalau kita mau melanjutkan studi sampai ke jenjang doktoral. Di program ini ada banyak banget keuntungan yang bisa kita dapatkan, tergantung jenis leading program yang kita ikuti. Misalnya, ada leading program yang memfokuskan diri untuk mahasiswa di bidang hukum, maka program-program yang tersedia di dalamnya bersifat konstruktif untuk mahasiswa hukum. Tidak sedikit juga leading program yang bersifat lebih general dan bisa diikuti oleh mahasiswa dari segala bidang. Saya memilih untuk bergabung ke leading program yang khusus untuk bidang keilmuan yang saya dalami. Selain tersedianya kelas tambahan dalam bahasa inggris, kita juga bisa mengajukan pendanaan untuk perjalanan ke luar negeri. Sebagai contoh, melalui program ini selama master saya berhasil menginjakkan kaki di Jerman untuk konferensi dan ke USA untuk pelatihan. Di jepang sendiri ada banyak leading program yang tersedia. Silakan cek website JSPS untuk informasi lebih jelasnya, siapa tau universitas tujuan kamu punya leading program yang sesuai untuk kamu! ;)

Kembali ke perkuliahan sebagai mahasiswa master, untuk menyelesaikannya gampang gampang susah. Berdasarkan pengalaman, sidang master di Jepang tidak sesulit sidang semasa saya S1 di Indonesia dulu. Yang sulit adalah sebelum sidang, alias mengumpulkan data yang bercerita dan layak untuk dipresentasikan di depan para profesor dan teman-teman satu jurusan. Keterbatasan kemampuan berbahasa Jepang pun nggak jadi masalah kok, mahasiswa asing dipersilakan untuk menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar presentasi mereka. Sesi tanya jawab pun akan dilakukan dalam bahasa Inggris, sesuai preferensi kita. Sesi tanya jawab pun relatif nggak terlalu lama. Kalau di Indonesia dulu, saya harus menempuh sekitar sekitar 45 menit tanya jawab dari pada dosen, di Jepang ini sesi tanya jawab master hanya sekitar 8 menit. Mungkin kalau di Indonesia kita lega banget habis lulus sidang, di sini setengah lega ketika data sudah di approve dosen pembimbing dan setengahnya lagi setelah selesai presentasi kali ya.

Secara garis besar, saya bersyukur banget dengan kesempatan mengenyam pendidikan master di negeri sakura sampai akhirnya kemarin alhamdulillah selesai presentasi tugas akhir. Selama berkuliah di Jepang, bukan cuma memperdalam ilmu yang masih cetek ini, tapi juga pengalaman untuk kenal dengan profesor dari berbagai dunia, mendengarkan dan berdiskusi dengan mereka. Satu hal tambahan lainnya menjadi mahasiswa asing di negara non berbahasa inggris adalah sedikit mengerti tentang bahasa setempat. Walaupun kemampuan bahasa Jepang masih remah remah rengginang, saya percaya pemahaman banyak bahasa menjadi nilai lebih tersendiri untuk bersaing di era globalisasi :D

-- edit --

sedikit kebahagiaan di hari bahagia ;)



0 komentar:

Post a Comment