Friday, February 17, 2017

kuliah master di Jepang

Menjelang sidang tugas akhir (dan dikompori Mr. Ghuw untuk kembali aktif menulis), saya jadi sedikit banyak flashback ke masa awal kedatangan ke Jepang sampai sekarang. Dua setengah tahun bukan waktu yang sebentar. Di sini saya mau cerita sedikit tentang gimana saya mengawali sampai akhirnya menuntaskan studi master ini. Let's start! ;)


RESEARCH STUDENT

Sama seperti kebanyakan mahasiswa Indonesia lainnya yang baru mulai perkuliahan di luar negeri, saya merasakan euforia yang sulit dideskripsikan. Antusiasme untuk memulai sesuatu yang baru di negeri (yang cukup) jauh dari tanah kelahiran, membuat saya bersemangat untuk menghadapi lingkungan baru.

Satu bulan pertama, ada banyak hal yang harus diurus. Mulai dari mebuat rekening bank sampai pembelian handphone. Untuk urusan tempat tinggal, sebagian besar mahasiswa asing (setidaknya) di Nagoya University akan ditempatkan di asrama terlebih dahulu, sebelum pindah ke apartment (selanjutnya disebut apato). Harga sewa asrama berbeda-beda, biasanya bergantung pada fasilitas yang disediakan (shared facility atau private facility) dan tahun dibangunnya asrama. Secara lokasi, sebagian besar asrama terletak di jarak yang bisa ditempuh dengan jalan kaki. Saya ditempatkan di asrama yang berjarak sekitar 10-15 menit jalan kaki dari kampus (sekitar 25-30 menit dari asrama menuju lab saya) dengan fasilitas yang sangat baik dan biaya sewa yang tentunya masih jauh lebih murah dibandingkan dengan biaya sewa apato. Biasanya, mahasiswa asing mendapat kesempatan tinggal di asrama selama 6 bulan, dan bisa diperpanjang hingga maksimal 1 tahun setelah kedatangan. Berhubung biaya memulai kontrak apato nggak sedikit, selama tinggal di asrama kita bisa mulai mempersiapkan dana untuk pindahan. 

Sebagai penerima beasiswa monbusho, saya mengawali studi sebagai research student selama 6 bulan (periode dan kegiatan research student bervariasi bergantung kebijakan Professor yang bersangkutan). Pada masa ini saya memfokuskan diri untuk belajar bahasa Jepang, persiapan ujian masuk, dan beradaptasi dengan lab. Kegiatan belajar bahasa Jepang diselenggarakan setiap hari dengan dua pilihan, kelas reguler dan kelas intensif (setiap universitas memiliki program yang berbeda). Perbedaan antara kedua jenis kelas ini adalah dalam alokasi waktu belajar di kelas, dan materi yang disampaikan. Kelas intensif memiliki jam belajar dan materi dua kali lebih banyak dibanding kelas reguler. Bagi yang sudah memiliki kemampuan dasar bahasa jepang, bisa mengambil tes penempatan untuk dapat melanjutkan tanpa harus mulai dari awal. Selain sebagai sarana belajar bahasa jepang, bagi saya pribadi, kelas ini menjadi tempat membangun pertemanan dengan sesama mahasiswa asing di kampus. Mereka datang dari berbagai negara, dengan karakter dan gaya mereka masing-masing. Bertemu setiap hari di kelas intensif membuat kami saling kenal satu sama lain. Apalagi jumlah peserta di kelas kami semakin sedikit, kebanyakan yang bertahan adalah mahasiswa pertukaran pelajar yang nggak memiliki beban penelitian. Berkutat dengan padatnya kurikulum, menumpuknya tugas, dan banyaknya kuis, akhirnya berbuah manis. Sebelas orang yang tersisa di kelas saat itu dinyatakan lulus semua yeaay! :D

Berbeda dengan kelas bahasa jepang, persiapan ujian masuk merupakan kegiatan mandiri dan tidak dapat disama ratakan. Ujian masuk perguruan tinggi (khususnya di universitas saya) sangat bergantung pada fakultas dan pendanaan calon mahasiswa. Umumnya, semua calon mahasiswa baru mengikuti tes tertulis dan jika dinyatakan lulus tes tertulis dapat melanjutkan ke tes wawancara. Pada kasus saya, hanya perlu melakukan tes wawancara. Setelah dinyatakan lulus, saya dapat mengambil ancang-ancang untuk penelitian selama studi master. Sebenarnya, sejak awal bulan Desember saya sudah mulai megikuti start program atau program pengenalan lab. Dalam program ini saya diajarkan berbagai metode dasar kegiatan penelitian di lab, sehingga ketika memasuki studi master saya sudah lebih siap melakukan penelitian. Saya pun sudah mulai "mengkoleksi" paper sebagai bahan bacaan di tengah-tengah mengerjakan tugas kelas bahasa. Biasanya seusai kelas bahasa, saya menuju lab untuk makan bekal dan shalat. Kemudian mengerjakan semua tugas atau belajar untuk kuis (yes! we have quiz almost every day, sometimes two in one day) sebelum beralih ke lab related stuff. Pulang ke asrama setelah matahari tenggelam untuk kembali ke kampus tidak lama setelah matahari terbit (musim dingin matahari terbit lebih lambat) menjadi rutinitas selama satu semester.

Namun, dibalik semua kesibukan itu, sebenarnya masa-masa research student adalah masa yang paling santai dan patut dinikmati. Saya sempat menonton dua festival di enam bulan pertama ini, Nagoya Matsuri dan Inuyama Matsuri. Selain itu saya juga mengikuti program homestay selama akhir pekan di Inuyama. Bukan hanya merasakan tinggal di tengah keluarga Jepang, saya juga mengunjungi beberapa tempat menarik seperti Inuyama Castle dan Little World. Memasuki libur musim dingin, saya berkunjung ke salah satu situs warisan dunia, Shirakawa-go. Saya pun sempat menghabiskan waktu beberapa hari di daerah Kanto (Tokyo dan sekitarnya) setelah ujian masuk dan selesainya kelas bahasa Jepang. :)


MASTER COURSE

From here on, the real life started. Kenapa? Karena selain bertambahnya kelas yang harus diambil untuk memenuhi SKS, beban penelitian pun pastinya bertambah. Setidaknya ada dua pertemuan rutin yang harus dihadiri, paper seminar dan research seminar. Menurut saya, paper seminar lebih menantang dibandingkan dengan research seminar, karena kita diharuskan bisa menyampaikan pekerjaan orang lain dengan baik dan mampu menjawab pertanyaan yang muncul dalam sesi diskusi. Ya walapun research seminar juga bisa sangat menegangkan kalau kita lagi miskin data hahaha.

Selama perkuliahan master, saya diharuskan mengambil setidaknya 30 SKS dengan detail 2SKS matkul kategori A, 8 SKS matkul kategori B, 20 SKS matkul kategori C, dan 4 SKS matkul kategori D. Pengelompokkan mata kuliah ini saya nggak terlalu paham, tapi biasanya matkul pilihan itu ada di kategori C dan D. Dalam pengambilan mata kuliah ini sangat disarankan untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan dosen pembimbing. Karena banyak juga mata kuliah yang diambil merupakan mata kuliah khusus untuk lab tersebut.

Diluar mata kuliah master, kita bisa banget gabung ke leading program kalau kita mau melanjutkan studi sampai ke jenjang doktoral. Di program ini ada banyak banget keuntungan yang bisa kita dapatkan, tergantung jenis leading program yang kita ikuti. Misalnya, ada leading program yang memfokuskan diri untuk mahasiswa di bidang hukum, maka program-program yang tersedia di dalamnya bersifat konstruktif untuk mahasiswa hukum. Tidak sedikit juga leading program yang bersifat lebih general dan bisa diikuti oleh mahasiswa dari segala bidang. Saya memilih untuk bergabung ke leading program yang khusus untuk bidang keilmuan yang saya dalami. Selain tersedianya kelas tambahan dalam bahasa inggris, kita juga bisa mengajukan pendanaan untuk perjalanan ke luar negeri. Sebagai contoh, melalui program ini selama master saya berhasil menginjakkan kaki di Jerman untuk konferensi dan ke USA untuk pelatihan. Di jepang sendiri ada banyak leading program yang tersedia. Silakan cek website JSPS untuk informasi lebih jelasnya, siapa tau universitas tujuan kamu punya leading program yang sesuai untuk kamu! ;)

Kembali ke perkuliahan sebagai mahasiswa master, untuk menyelesaikannya gampang gampang susah. Berdasarkan pengalaman, sidang master di Jepang tidak sesulit sidang semasa saya S1 di Indonesia dulu. Yang sulit adalah sebelum sidang, alias mengumpulkan data yang bercerita dan layak untuk dipresentasikan di depan para profesor dan teman-teman satu jurusan. Keterbatasan kemampuan berbahasa Jepang pun nggak jadi masalah kok, mahasiswa asing dipersilakan untuk menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar presentasi mereka. Sesi tanya jawab pun akan dilakukan dalam bahasa Inggris, sesuai preferensi kita. Sesi tanya jawab pun relatif nggak terlalu lama. Kalau di Indonesia dulu, saya harus menempuh sekitar sekitar 45 menit tanya jawab dari pada dosen, di Jepang ini sesi tanya jawab master hanya sekitar 8 menit. Mungkin kalau di Indonesia kita lega banget habis lulus sidang, di sini setengah lega ketika data sudah di approve dosen pembimbing dan setengahnya lagi setelah selesai presentasi kali ya.

Secara garis besar, saya bersyukur banget dengan kesempatan mengenyam pendidikan master di negeri sakura sampai akhirnya kemarin alhamdulillah selesai presentasi tugas akhir. Selama berkuliah di Jepang, bukan cuma memperdalam ilmu yang masih cetek ini, tapi juga pengalaman untuk kenal dengan profesor dari berbagai dunia, mendengarkan dan berdiskusi dengan mereka. Satu hal tambahan lainnya menjadi mahasiswa asing di negara non berbahasa inggris adalah sedikit mengerti tentang bahasa setempat. Walaupun kemampuan bahasa Jepang masih remah remah rengginang, saya percaya pemahaman banyak bahasa menjadi nilai lebih tersendiri untuk bersaing di era globalisasi :D

-- edit --

sedikit kebahagiaan di hari bahagia ;)



Wednesday, February 8, 2017

a random journey to Kanazawa

Actually I was planning to make a come back to this blog last year. I made this draft around the beginning of last year, but somehow I didn't finish it and it become forgotten. I decided to continue and publish. Hope you enjoy this article :)

I made a really random journey to Kanazawa on January last year. I said it random because my friend and I decide to go there just less than one week before our departure. All the preparation were done within four days (as the best I could remember). Honestly, as a perfectionist I never travel as random as that before, but it was fun! Let me start :D

After about three hours bus trip, we arrived at Kanazawa Station at noon. By the time I step my foot in the station, I can feel that nostalgic feeling. I've been there (almost) exactly three years ago for an exchange student program and made a lot of unforgettable memory. My japanese friend pick us up and we had lunch at station. Finding halal food in Japan nowadays is much easier, however it still challenging. Seafood usually the only choice I have in most of the restaurant. I had a delicious unagi that day. We were heading to 21st Century Museum after fulfill our stomach with delicious-(relatively)cheap food. Back then, I didn't enter the exhibition and just enjoying the free admission museum hahaha. So, this time I decide to buy the ticket. Although I am not really into art, I found it's interesting to spend some time enjoying those art in the museum. Please go to the website for further info.


One of free artsy stuff in 21st Century Museum. You can see my friend in the photo lol

Finish with some artsy, my friend brought us to take a look at Kanazawa university. Three years ago it was full with snow and this tropical girl is so happy to see snow, but last year there was no snow. It looks so different but still success to bring back those sweet memory :") After put our luggage and check in the guest house, we were strolling around higashichaya. It only takes less than 5 minutes on foot to go there from our guest house. This district is a popular place to see many old japanese house, and we even can take a look on geisha house. Since kanazawa is well known for its gold, although it was a very freezing afternoon, it didn't stop us to enjoy a cone of gold ice cream. The owner of the shop was so kind, he told the staff to make it for us although they just close the business. I can't describe how delicious the ice cream was. It was so soft and milky, I understand why people line up like crazy before it closed. We were the lucky last customer!

At the first night, we didn't really do many things outside. We just had dinner while somehow got a better understanding of kanazawa map. Three years ago, I always commuting from one place to the other place either by the university's bus or my japanese friends' car. So, I didn't really have the idea of how exactly we were moving. It just during this trip, I understand kanazawa's map..which is pretty simple hahaha.

The fireman festival. I'm super freezing even just by watch it.

On the second day, we bought one day pass and head to Kanazawa Castle. We bought the ticket for both the castle and kenrokuen, it is cheaper that way rather than you buy it separately and you can save the ticket for the next day if you feel like tomorrow gonna be a better day to visit the garden (like what I did, hoping the snow will fall and make the garden more beautiful). Every first monday on january every year (the second if the first one is national holiday), there is a fireman festival in the castle. We arrived there just on time and amazed by how great the performance was. It was a freezing morning but they give their best on the performance with water and almost naked!! I don't know if it because I'm a tropical girl so I feel it's crazy, but I did really enjoy the show! :) Kanazawa castle was the first castle I've visited in Japan, and I (once again) enjoyed that nostalgic feeling while explore the castle.

Kanazawa castle. The first japanese castle I visit four years ago :")

Finish with the castle, we were heading to Furusato Ijinkan or can be translated as Great People of Kanazawa Memorial Museum. As its name, it has collection and history of famous people from Kanazawa. Since my friend wasn't interested, so she waited in the first floor while I'm exploring the museum by myself. The ticket price is around 300 yen. I even took a selfie in the area of Jokichi Takamine, one of the most famous person on my field.

Another thing I like from Kanazawa is the city it self is not that big. Many interesting place are located close to each other. We went to the Ishikawa Prefectural Museum of Traditional Arts and Crafts. We can see many forms of traditional crafts from Ishikawa, as well as buying some if you are interested. When we went to the museum, there was an exhibition to make a gold craft. With less than 1000 yen we can make the crafts and bring the result home. I'm happy with the result, especially because we can choose the design we want. The sensei kindly told us step by step, so even with our not-so-fluent japanese we can make it! I am a craft enthusiast, this kind of activity is always on my list whenever I travel (as long as it's not that pricey).

A photo posted by Almsul Alfi[アルフィ| اَلْفِ] (@almasulalfi) on

We spent the afternoon by shopping, having dinner, meeting up with friend, and strolling around kanazawa station. If you have chance to visit Kanazawa, taking photo in front of the station is one of the thing you should do. It has unique design and one of the icon of Kanazawa. On this short escape, we took photos both day and night. Well, it's quite challenging at night especially because I didn't bring tripod for my camera.

Kanazawa station at night

On the third day, we start our journey by have breakfast at the popular fish market in kanazawa: oomicho market. We had our stomach full with delicious sushi. We went there really early in the morning just after we move our luggage to coin locker in the station. Most of the shop still not open yet by the time we were arrive, and by the time we out there is a long line outside the restaurant. Again, we were lucky customer! :D

With full stomach, we were heading to the Kenrokuen. We decided to go there on our last day, because we were hoping to see the garden covered with snow. However, the snow was hardly can be seen. This park is one of the three famous garden in Japan known as Nihon Sanmeien, together with Korakuen in Okayama and Kairakuen in Mito. It has the oldest fountain in Japan. You can enjoy strolling around the garden while enjoying its beauty and have some tea. I love to collect postcard, especially the unusual one. I got some wood postcards and bookmark there :) The location of Kenrokuen, Kanazawa Castle, and The 21st Century Museum are really close to each other. So, you can explore all of them in the same day.

Kenrokuen in the winter..without snow T.T

Before heading to the station where our bus will depart, we were strolling in Nagamachi Samurai District. It was not as crowded as Higashichaya District, but you can take some good photos there. It was very freezing morning in Kanazawa compare to Nagoya. As tropical girls, we were quite struggling to deal with the cold wind. If you want to come to Kanazawa on winter, better prepare yourself lol

Finally we went to FORUS and had some quite luxury lunch. It was during the lunch time, therefore most of the restaurant were having a long line. But, it was delicious and we were not ready to come back to reality! :)

Monday, February 6, 2017

berburu beasiswa ke negeri sakura

Melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi di Jepang merupakan impian saya sejak masih di bangku SMA. Sempat beberapa kali mencari peluang untuk mengikuti kegiatan pertukaran pelajar di luar negeri, niatan itu harus terkesampingkan karena sibuknya kegiatan perkuliahan dan organisasi di kampus. Hingga pada suatu hari di bulan September 2012, saya mendapatkan kesempatan untuk menjadi liaison officer (LO) mahasiswa Kanazawa University (金沢大学) yang berkunjung ke kampus saya, Institut Teknologi Bandung (ITB) selama dua minggu. Saya pun terpilih untuk berangkat ke Kanazawa selama dua minggu untuk mengikuti program Short Stay Short Visit di bulan Januari 2013. Pengalaman selama dua minggu di Kanazawa semakin memantapkan saya untuk melanjutkan studi di Jepang.

Sebenarnya, sejak memasuki semester 7, saya sudah mulai mencari dan mencoba mendaftar ke salah satu universitas swasta di Jepang. Beberapa hari setelah saya kembali ke Indonesia, Japan Educational Seminar Indonesia diselenggarakan di ITB. Saya mencoba mendatangi beberapa stand universitas dan mendapatkan banyak informasi yang kembali memicu semangat saya untuk kembali mencoba.

Dengan memanfatkan teknologi bernama internet, saya menemukan sebuah lab yang sesuai dengan minat saya di Nagoya University (名古屋大学). Setelah beberapa kali berkirim email dengan Professor dari lab yang saya inginkan, sekitar awal Maret 2013, saya melakukan wawancara melalui Skype dan dinyatakan lolos interview. One step closer to my dream! :)

Kurang lebih satu semester saya memfokuskan diri untuk menyelesaikan studi sarjana saya sebelum memulai pencarian beasiswa. Saya sempat mencoba untuk mendaftar salah satu beasiswa yang tersedia di Indonesia, namun karena beberapa masalah kelengkapan administrasi, no surprise saya gagal. Hampir di penghujung tahun, saya mendapat informasi dari Professor saya bahwa saya berkesempatan untuk mencoba mendaftar beasiswa dari pemerintah jepang kategori rekomendasi universitas, atau lebih dikenal monbukagakusho U to U. Fasilitas yang disediakan beasiswa kategori ini hampir sama dengan monbukagakusho G to G (lebih lanjut tentang kategori ini dapat dibaca di sini), namun tahap penyeleksiannya berbeda.

Beasiswa monbukagakusho (selanjutnya akan disebut monbusho) merupakan beasiswa yang diberikan oleh Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Olahraga, Sains dan Teknologi (MEXT) Jepang kepada warga asing (baca: non Jepang) yang ingin melanjutkan studinya di Jepang. Ada beberapa jenis program yang ditawarkan, termasuk program-program yang ditawarkan spesifik hanya untuk pendaftar ke suatu jurusan atau fakultas di universitas tertentu saja. Berhubung saya kurang memahami prosedur untuk jenis program yang lain, pada tulisan ini saya akan fokus untuk membagikan pengalaman saya dalam mendaftar monbusho U to U.

Program ini umunya diawali dengan masa research student yang waktunya bervariasi hingga maksimal satu tahun. Pada kasus saya, saya menjalani masa-masa sebagai research student selama enam bulan. Dalam rentang waktu tersebut, saya mempersiapkan untuk ujian masuk (jenis ujian bergantung pada sekolah masing-masing), mengambil kelas bahasa jepang intensif (5x3jam per minggu), dan memulai pengenalan laboratorium (pengenalan alat, metode, dll). Kegiatan research student ini pun sangat bergantung pada jurusan si penerima beasiswa. Beberapa rekan saya di social science diharuskan untuk mengambil beberapa kelas sambil mempersiapkan ujian masuk dan belajar bahasa jepang. Bagi yang tidak melalui program research student, penerima beasiswa bisa langsung memulai kegiatan perkuliahan di semester dia datang ke jepang. Based on my own experience, saya sangat bersyukur saya melewati tahap research student lebih dulu sebelum masuk ke master course. Saya bisa memanfaatkan enam bulan pertama bukan hanya untuk persiapan menghadapi ujian, tapi juga sebagai waktu untuk beradaptasi di Jepang. People said, the first year gonna be the hardest. Sehingga, ketika saya memulai master course saya sudah melewati masa-masa beradaptasi dan dapat lebih fokus ke kegiatan perkuliahan dan penelitian.

Hal pertama yang perlu diingat untuk mendaftar beasiswa ini adalah, pendaftar harus sudah memiliki Professor di salah satu universitas di Jepang yang memiliki kerjasama dengan almamater pelamar. Kenapa? Karena informasi mengenai beasiswa ini kemungkinan tidak dapat diperoleh dari website, tetapi akan langsung ditawarkan oleh Professor yang bersangkutan jika memang tersedia. Kelengkapan untuk mendaftar pun diinfokan langsung oleh Professor, dan semua berkas yang dikirim ke rumah saya di Indonesia harus dikirim kembali ke Jepang dalam rentang waktu yang cukup singkat. Berikut adalah daftar dokumen yang harus saya persiapkan:

1. Application form
Formulir aplikasi ini berisi data-data mengenai pelamar. Instruksinya ditulis dalam dua bahasa, sehingga lebih mudah dipahami walaupun tidak memiliki kemampuan bahasa jepang yang mumpuni. Saat mengisi formulir ini, saya mengisinya dengan tulisan tangan dan membacanya berkali-kali, untuk memastikan semuanya terisi dengan benar sebelum menandatanganinya di halaman terakhir.

2. Field of study and study program
Sesuai dengan judulnya, bagian ini mengharuskan pelamar untuk menceritakan bidang yang didalami dan apa yang akan dilakukan di Jepang. Pengisian bagian ini dapat pula dikonsultasikan dengan Professor di Jepang.

3. Recommendation letter
Surat rekomendasi untuk pendaftaran beasiswa ini harus ditulis oleh setidaknya dekan fakultas asal pelamar. Saya cukup beruntung untuk mendapatkan surat rekomendasi dari rektor, karena kebetulan beliau adalah dosen di departemen saya, sehingga sedikit banyak saya pernah lebih berinteraksi dengan beliau ketimbang dekan fakultas. Surat rekomendasi harus dimasukkan ke dalam amplop dan disegel untuk menjamin keaslian surat.

4. Degree certification/certificate of graduation (Bachelor and Master)
Ijazah menjadi syarat di hampir semua pendaftaran beasiswa. Untuk mendapatkan salinan ijazah berbahasa inggris dari almamater tentunya membutuhkan waktu yang tidak sebentar, terutama jika pelamar sudah tidak tinggal di kota universitas asal. Oleh karena itu salinan ijazah berbahasa inggris sebaiknya selalu siap digunakan selama proses perburuan beasiswa. Hal ini tentunya akan mempermudahkan proses pendaftaran.

5. Transcript (Bachelor and Master)
Mirip dengan poin sebelumnya, sebaikanya pelamar juga mempersiapkan salinan transkrip berbahasa inggris sebelum memulai perburuan beasiswa demi kemudahan pendaftaran.

6. Any records that shows the applicant was in the top-level category, such as GPA indication, rank order
Pembuktian bahwa pelamar merupakan kategori "atas" di universitas asal dapat dilakukan dengan beberapa cara. Pada kasus saya, IPK dan kategori kelulusan tercantum dalam transkrip akademik. Jika tidak tercantum pada transkrip, dokumen-dokumen terkait dapat dilampirkan.

7. Abstract of thesis
Abstrak dari penelitian di pendidikan terakhir. Saya salin langsung dari skripsi sarjana saya.

8. Documents validating nationality and residence status
Berhubung menurut saya akan lebih baik untuk mengirimkan berkas berbahasa inggris, saya mengirimkan salinan halaman pertama paspor untuk memvalidasi kewarganegaraan saya. Mungkin salinan dokumen lainnya juga berlaku, silakan ditanyakan kepada Professor terkait.

9. Health certificate
Formulir untuk sertifikat kesehatan berisi tentang data kesehatan pelamar. Berhubung dibutuhkan waktu sampai hasil medical check up selesai, sebaiknya langsung melakukan tes kesehatan setelah mendapatkan formulirnya.

10. Declaration letter
Surat ini dibuat untuk mendeklarasi kesediaan pelamar kalau ternyata mendapatkan beasiswa tanpa uang transportasi (PP Indonesia-Jepang) dan settlement fee saat tiba di Jepang. Beasiswa bulanan, dan seluruh biaya perkuliahan tetap ditanggung penuh oleh pemerintah jepang. Kalau memang tidak memungkinkan untuk menggunakan dana pribadi untuk tiket pesawat, sebaiknya dibicarakan dengan Professor yang bersangkutan.

Tahap seleksi dilakukan dua tahap, di universitas yang dituju dan di pusat. Hasil penilaian yang dilakukan di universitas dapat diketahui sekitar dua sampai tiga bulan setelah berkas dikirim ke Jepang. Selanjutnya aplikasi dikirimkan oleh universitas ke pusat. Pada tahapan ini kurang lebih sama dengan monbusho G to G. Tidak ada yang dapat memprediksi apakah pelamar akan diterima atau tidak. Meskipun sudah mengantongi rekomendasi dari universitas (rekomendasi dari kedutaan besar untuk kasus monbusho G to G), keputusan akhir beasiswa tetap berada di pusat and anything can happen. Pengumuman hasil seleksi diumumkan sekitar bulan Juni di tahun keberangkatan. It was a very long six months, I even had plan B and C successfully started when I got the notification. Sekitar satu bulan kemudian, beberapa berkas tiba di rumah untuk pembuatan visa. Pengurusan visa di kedutaan besar Jepang pun cukup mudah. Pembuatan visa dilakukan terpisah dari pembuatan visa reguler, dan semua biaya pembuatan visa ditanggung oleh pemerintah jepang. Ketika datang, saya tidak perlu mengantri sama sekali. Saya hanya perlu menyerahkan dokumen yang saya peroleh dari Professor saya dan beberapa dokumen yang harus saya isi ke bagian pembuatan visa. Dalam kurun waktu tidak sampai satu minggu, visa saya selesai dibuat. Sebaiknya semua dokumen yang diterima dari Professor, seperti Letter of Acceptance dan lain lain selalu siap ditunjukkan saat tiba di Jepang, untuk berjaga-jaga kalau dibutuhkan di bagian imigrasi bandara.

Sakura di sekitar Yamazaki River, tidak jauh dari Nagoya University.
Informasi lebih lanjut mengenai beasiswa ini bisa dilihat di website kedutaan besar jepang. Tulisan ini adalah sedikit flashback ke lebih dari tiga tahun lalu untuk mempermudah menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang bagaimana saya bisa mendapatkan beasiswa monbusho. Harap maklum kalau kurang detail. However, feel free to ask me any questions regarding this matter. I'll be happy to do my best to help you! :)

Sunday, February 5, 2017

back from long hiatus

It such a funny things how I open this blog every three years. Thanks to Mr. Ghuw, finally I open this blog again. I re-read my post and everything was so random. I was young lol

Many things happen since the last time I posted here. I was posting about Mahabrata which surprisingly made quite a lot visitors to hit my dessert blog. Back then I was preparing my study to Japan. Yes, now I am in Japan. I have been here for almost two and half years. My master course will come to its end soon, and now actually I'm (kinda) busy with thesis and defense preparation.

I am considering to write more (at least) in the near future. See you in the next post!